SAMARINDA – Direktur Utama PT Bara Kaltim Sejahtera, Nidya Listiyono, hadir sebagai narasumber dalam diskusi kepemimpinan yang digelar organisasi mahasiswa Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Rabu (30/4/2025). Kegiatan berlangsung di Gedung Auditorium 22 Dzulhijjah, Kampus 2 UINSI.
Dalam kesempatan tersebut, Tiyo sapaan akrab mantan anggota DPRD Kaltim itu berbagi pengalaman mengenai perjalanan kariernya hingga memimpin perusahaan tambang. Ia juga menyinggung gaya kepemimpinan Gubernur Kaltim terpilih, Rudy Mas’ud, yang dinilainya mampu menciptakan suasana kerja yang nyaman dan kolaboratif.
“Rudy Mas’ud adalah sahabat saya sejak lama. Gaya kepemimpinannya memudahkan orang bekerja sama,” ujar Tiyo.

Sesi diskusi menjadi lebih hidup saat mahasiswa mulai mengajukan pertanyaan. Salah satunya datang dari Muhammad Farikhin, mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam FUAD.
Ia menyinggung pernyataan Rudy Mas’ud dalam rapat bersama Komisi II DPR RI yang menyebut “gubernur konten” kepada Gubernur Jawa Barat.
“Apakah menurut Bang Tiyo, pernyataan seperti itu pantas disampaikan dalam forum resmi?” tanya Farikhin.
Menanggapi pertanyaan itu, Tiyo menyebut konteks pernyataan tersebut bukan sindiran, melainkan bentuk kedekatan personal yang disampaikan dengan gaya khas Rudy Mas’ud.
“Itu bukan sindiran. Mereka bersahabat cukup lama, dan sering berkomunikasi. Gaya bicara Rudy memang lugas dan kadang menggunakan bahasa yang tidak formal,” jelasnya.
Selain soal kepemimpinan dan komunikasi politik, diskusi tersebut juga membahas peran pemuda dalam pembangunan daerah, serta pentingnya organisasi mahasiswa sebagai ruang pengasahan kepemimpinan dan kesadaran kritis.
Kegiatan ini menjadi momentum dialog terbuka antara mahasiswa dan tokoh publik, yang diharapkan dapat memperluas perspektif mahasiswa dalam memahami dinamika sosial-politik di Kalimantan Timur.
Diskusi ditutup dengan ajakan Tiyo kepada mahasiswa untuk terus aktif, berpikir kritis, dan tidak apatis terhadap isu-isu strategis di daerah.
“Kalian adalah pemimpin masa depan. Jangan hanya jadi penonton. Terlibatlah dalam prosesnya, baik lewat karya, pemikiran, maupun aksi nyata,” pungkasnya.
