Samarinda

Genting Samarinda Dorong Perbaikan Sanitasi Keluarga

Avatar photo
Oleh Jalia
Ukuran Font
Kecil Besar

SAMARINDA – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Samarinda memperluas intervensi Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) melalui bantuan non-nutrisi.

DPPKB Kota Samarinda bersama DPD IPPRISIA Kalimantan Timur melakukan visitasi calon penerima bantuan di tiga lokasi, Rabu (16/9/2026).

Visitasi tersebut dilakukan di Kelurahan Tenun, Pasar Pagi, dan Sempaja Utara untuk melihat kondisi keluarga sasaran.

Kepala DPPKB Kota Samarinda Deasy Evriyani menyebut, kunjungan dilakukan untuk memastikan kebutuhan keluarga sasaran sebelum bantuan diberikan sesuai kondisi lapangan.

“Program Genting menjadi implementasi Quick Win Kemendukbangga untuk percepatan pencegahan stunting,” ujarnya.

Deasy menjelaskan, program Genting menyasar keluarga berisiko stunting dengan dua bentuk intervensi, yakni nutrisi dan non-nutrisi. Untuk intervensi nutrisi, bantuan diberikan berupa makanan bergizi selama 90 hari kepada bayi, balita, serta ibu hamil.

Sementara intervensi non-nutrisi mencakup pembangunan rumah layak huni, jamban sehat, penyediaan air bersih, serta pemberdayaan ekonomi keluarga. DPPKB mencatat terdapat sekitar 20.695 keluarga berisiko stunting yang menjadi sasaran intervensi di Samarinda.

“Target tahun ini sekitar 400 keluarga risiko stunting untuk diberikan intervensi,” kata Deasy.

Foto bersama DPPKB dan IPPRISIA dengan calon penerima bantuan (Jalia/jurnalborneo)

Menurutnya, capaian intervensi nutrisi saat ini telah mencapai sekitar 70 persen dari target tahunan. Dari target lebih dari 400 keluarga, sebanyak lebih dari 300 keluarga telah mendapatkan bantuan nutrisi.

Untuk bantuan non-nutrisi, tahun ini, DPPKB kembali melakukan visitasi calon penerima di Kelurahan Tenun, Pasar Pagi dan Sempaja Utara.

Deasy menyebut bantuan akan disesuaikan berdasarkan kebutuhan masing-masing keluarga setelah proses visitasi selesai dilakukan. Selanjutnya, DPPKB bersama pemangku kepentingan menyusun rencana anggaran biaya sebelum pekerjaan dilaksanakan.

“Setiap bantuan harus disertai komitmen menjaga fasilitas dan menerapkan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat),” kata Deasy.

Tahapan bantuan meliputi visitasi, penyusunan rencana anggaran biaya, koordinasi dengan camat, lurah, RT, serta kader pendamping. Setelah pekerjaan selesai, tim akan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pemanfaatan bantuan keluarga penerima.

DPPKB juga menerapkan perjanjian dengan keluarga penerima agar fasilitas yang diberikan dirawat secara berkelanjutan. Ketentuan tersebut sekaligus diarahkan untuk mendorong perubahan perilaku keluarga dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Deasy menegaskan, pencegahan stunting tidak cukup hanya melalui pemenuhan kebutuhan nutrisi keluarga. Faktor sanitasi, pola asuh, lingkungan tempat tinggal, serta kondisi sosial keluarga juga menjadi bagian penting dalam pencegahan stunting.

“Masih banyak keluarga yang membutuhkan bantuan melalui kolaborasi berbagai pihak,” ujarnya.

Program Genting tersebut menggunakan dukungan non-APBD dari pihak yang berperan sebagai orang tua asuh. Dalam kegiatan ini, DPD IPPRISIA Kalimantan Timur menjadi salah satu organisasi yang memberikan dukungan bagi keluarga sasaran.

Adapun tiga calon penerima bantuan yakni Lente (71) merupakan warga Kelurahan Tenun yang membutuhkan jamban sehat. Latifah (31) merupakan warga Pasar Pagi dengan fasilitas WC belum layak. Arsiah (62) merupakan warga Sempaja Utara yang belum memiliki WC.