SAMARINDA – Sebanyak 16 warga binaan pemasyarakatan (WBP) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Samarinda mengikuti pelatihan barista sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian.
Pelatihan tersebut berlangsung selama 10 hari dengan menggandeng Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP).
Para peserta tidak hanya diajarkan cara membuat kopi, tetapi juga mendapatkan materi mengenai karakter biji kopi Nusantara hingga penggunaan mesin espresso.
Pelatihan ini diharapkan menjadi bekal bagi WBP setelah menyelesaikan masa pidana dan kembali ke tengah masyarakat.
Kepala Lapas Kelas IIA Samarinda Yohanis Varianto mengatakan, pembinaan keterampilan tersebut merupakan upaya memberikan kemampuan yang dapat dimanfaatkan warga binaan setelah bebas.
“Kami ingin saat mereka bebas nanti, ada keahlian nyata yang siap digunakan,” ujar Yohanis, Senin (15/9/2026).
Menurut dia, keterampilan menjadi barista memiliki peluang untuk dikembangkan karena usaha kedai kopi terus berkembang di Samarinda.
Yohanis berharap para peserta tidak hanya dapat bekerja sebagai barista setelah bebas, tetapi juga memiliki kemampuan untuk membuka usaha secara mandiri.
“Bisnis kedai kopi berkembang pesat di Samarinda, dan para WBP ini punya potensi besar untuk bersaing sebagai barista andal atau bahkan membuka usaha mandiri,” katanya.

Selama pelatihan, 16 WBP mendapatkan pendampingan dari instruktur yang memiliki keterampilan di bidang barista.
Materi yang diberikan mencakup pengenalan karakter berbagai biji kopi Nusantara, pengoperasian mesin espresso, serta teknik dasar hingga pembuatan minuman berbasis kopi.
Program tersebut menjadi bagian dari pembinaan di dalam lapas yang tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan masa pidana, tetapi juga mempersiapkan warga binaan agar memiliki keterampilan ketika kembali ke masyarakat.
Bagi para peserta, keterampilan baru yang diperoleh diharapkan dapat membuka peluang pekerjaan maupun usaha setelah mereka bebas.
Pelatihan barista juga menjadi salah satu cara untuk membangun kepercayaan diri warga binaan agar memiliki pandangan baru mengenai kehidupan setelah menjalani masa pidana.
Dengan keterampilan yang diperoleh, cangkir kopi yang diracik dari balik Lapas Samarinda diharapkan tidak berhenti sebagai hasil pelatihan.
Keterampilan tersebut menjadi bekal agar para WBP memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan yang lebih mandiri ketika kembali ke masyarakat.
