PENGANTAR SURAT AL-WĀQI’AH
Oleh Masykur Sarmian
Surat Al-Wāqi’ah adalah surat ke-56 dalam susunan mushaf dan terdiri dari 96 ayat. Mayoritas ulama memasukkannya sebagai surat Makkiyah, yaitu surat yang turun sebelum hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Surat ini termasuk bagian dari rangkaian surat-surat Makkiyah yang sangat kuat dalam membangun fondasi akidah : tauhid, kepastian hari kebangkitan, pembalasan amal, dan pengakuan terhadap kekuasaan mutlak Allah SWT.
Nama Al-Wāqi’ah diambil dari ayat pertamanya, “Idzā waqa’atil-wāqi’ah”—
“Apabila Al-Wāqi’ah terjadi.” Kata Al-Wāqi’ah berarti peristiwa yang pasti terjadi. Nama ini sekaligus menjadi pintu masuk memahami keseluruhan surat. Al-Qur’an tidak sedang membicarakan sebuah kemungkinan tentang masa depan, tetapi sebuah kepastian yang akan mengakhiri seluruh kesibukan dunia dan membuka kehidupan yang sesungguhnya.
Secara umum, Surat Al-Wāqi’ah dapat dipandang sebagai sebuah perjalanan kesadaran. Ia dimulai dengan gambaran dahsyatnya hari kiamat, kemudian menjelaskan bahwa manusia akan terbagi menjadi tiga golongan: As-Sābiqūn, orang-orang yang paling dahulu dalam kebaikan, Ashābul-Yamīn, golongan kanan yang memperoleh keselamatan; dan Ashābusy-Syimāl, golongan kiri yang menerima akibat dari pilihan hidupnya. Setelah itu Allah menghadirkan berbagai bukti kekuasaan-Nya melalui penciptaan manusia, tumbuh-tumbuhan, air, dan api, sebelum akhirnya menegaskan kemuliaan dan kebenaran Al-Qur’an sebagai wahyu dari Rabb semesta alam.
Dengan susunan seperti itu, Surat Al-Wāqi’ah sebenarnya tidak hanya berbicara tentang kematian dan kehidupan akhirat. Ia juga berbicara tentang orientasi kehidupan manusia di dunia. Jika manusia yakin bahwa semua yang dilakukan akan berujung pada perjumpaan dengan Allah, maka cara ia memandang harta, ilmu, kekuasaan, waktu, keluarga, bahkan dirinya sendiri akan berubah. Dunia tidak lagi menjadi tujuan akhir, tetapi menjadi ladang tempat menentukan kedudukan di kehidupan berikutnya.
Kronologis Turunnya Surat
Tidak terdapat riwayat sahih yang secara tegas menetapkan satu peristiwa tertentu sebagai sebab turunnya seluruh Surat Al-Wāqi’ah. Karena itu, surat ini lebih tepat dipahami sebagai bagian dari pembinaan akidah masyarakat Makkah yang ketika itu menghadapi penolakan keras terhadap tauhid dan terutama terhadap berita tentang kebangkitan setelah kematian.
Tema tersebut sangat sesuai dengan suasana dakwah Makkiyah. Kaum musyrikin Quraisy mempertanyakan bagaimana manusia yang telah mati dan tubuhnya telah hancur dapat dibangkitkan kembali. Al-Qur’an menjawab keraguan itu berulang kali dengan mengingatkan bahwa Allah yang menciptakan manusia pertama kali tentu mampu menghidupkannya kembali. Surat Al-Wāqi’ah kemudian menghadirkan persoalan tersebut dengan gaya yang sangat kuat: bukan hanya menjelaskan bahwa kiamat pasti terjadi, tetapi memperlihatkan apa yang akan terjadi kepada manusia ketika hari itu datang dan bagaimana kedudukan mereka ditentukan.
Ada beberapa riwayat yang berkaitan dengan ayat-ayat tertentu dalam Surat Al-Wāqi’ah, tetapi tidak semuanya memiliki kekuatan yang sama. Karena itu, dalam kajian ini kita tidak akan menjadikan riwayat-riwayat yang lemah sebagai fondasi kronologi surat. Prinsip yang akan kita pegang adalah bahwa asbābun nuzūl hanya dicantumkan apabila memiliki dasar riwayat yang dapat dipertanggungjawabkan. Jika tidak ada riwayat yang kuat, kita cukup menjelaskan konteks Makkiyah dan munāsabah ayat dengan ayat-ayat Al-Qur’an lainnya.
Salah satu riwayat yang sering dikaitkan dengan Surat Al-Wāqi’ah adalah hadis tentang Nabi Muhammad SAW yang membaca Surat Al-Wāqi’ah dalam shalat Subuh. Namun riwayat tersebut lebih menunjukkan keutamaan atau praktik pembacaan surat, bukan sebab turunnya. Karena itu, ia tidak tepat disebut sebagai asbābun nuzūl.
Demikian pula ungkapan yang populer bahwa “Barang siapa membaca Surat Al-Wāqi’ah setiap malam tidak akan tertimpa kemiskinan” sering disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. Riwayat tersebut memang sangat terkenal di masyarakat, tetapi status hadisnya diperselisihkan dan banyak ulama hadits menilainya lemah. Karena itu, dalam kajian ini kita tidak akan menjadikannya sebagai dasar keutamaan surat, apalagi sebagai sebab turunnya surat.
Yang jauh lebih penting adalah menangkap pesan utama surat itu sendiri. Surat Al-Wāqi’ah turun dalam lingkungan masyarakat yang sedang membutuhkan perubahan paradigma : dari kehidupan yang berpusat pada dunia menuju kesadaran tentang akhirat, dari kesombongan menuju ketundukan, dan dari pengingkaran terhadap kebangkitan menuju keyakinan bahwa setiap manusia akan mempertanggungjawabkan kehidupannya.
Dengan demikian, kita memasuki Surat Al-Wāqi’ah bukan hanya dengan pertanyaan “kapan surat ini turun ?”, tetapi dengan pertanyaan yang jauh lebih penting: “Mengapa Allah memilih untuk menurunkan surat ini kepada manusia pada masa itu, dan mengapa pesan yang sama masih begitu penting bagi manusia hari ini ?”
Sebab zaman boleh berubah, teknologi boleh berkembang, bentuk masyarakat boleh berganti, tetapi satu kenyataan tidak pernah berubah: manusia sedang berjalan menuju Al-Wāqi’ah.
Dan ketika hari itu tiba, tidak ada lagi yang dapat diulang.
Wallāhu A’lam
Samarinda, 22 September 2026
