TANJUNG SELOR — Ratusan mahasiswa dari berbagai daerah di Kalimantan Utara dipastikan akan menggelar aksi demonstrasi besar-besaran di halaman Mapolda Kalimantan Utara, Senin (21/7/2025). Aksi ini menjadi jilid kedua dari rangkaian unjuk rasa yang menyoroti dugaan keterlibatan oknum kepolisian dalam kasus penyelundupan narkotika.
Koordinator lapangan aksi yang juga Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tanjung Selor, Zulfikar, mengungkapkan bahwa massa yang akan turun ke jalan berasal dari sejumlah organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan lintas kabupaten, termasuk dari Nunukan, Tarakan, bahkan Berau, Kalimantan Timur.
“Aksi jilid dua ini akan dihadiri teman-teman dari Cipayung Plus se-Kalimantan Utara. Mereka akan bergabung di Tanjung Selor untuk menyuarakan aspirasi bersama,” kata Zulfikar, Minggu (20/7/2025).
Zulfikar menjelaskan, terdapat tiga tuntutan utama yang akan disampaikan dalam aksi ini. Pertama, mendesak Kapolda Kaltara bertanggung jawab atas keterlibatan anggotanya dalam sejumlah kasus narkotika. Kedua, meminta pencopotan Kapolda sebagai bentuk tanggung jawab moral dan sosial. Ketiga, menuntut evaluasi menyeluruh terhadap institusi Polda Kaltara yang dinilai gagal dalam pengawasan internal.
“Kasus Kasat Reskoba yang terlibat penyelundupan narkoba itu hanya puncak dari gunung es. Bukan yang pertama kali terjadi. Yang kami sesalkan, justru ada kader mahasiswa yang menjadi korban dalam aksi sebelumnya, tapi malah ditetapkan sebagai tersangka,” tegasnya.
Sebelumnya, Kapolda Kaltara telah menggelar konferensi pers untuk membantah tudingan penukaran barang bukti. Namun, para aktivis menilai pernyataan tersebut belum menjawab substansi permasalahan.
“Kami datang bukan sekadar ingin mendengar klarifikasi, tapi menuntut perubahan nyata,” pungkas Zulfikar.
Solidaritas juga datang dari luar Kalimantan Utara. HMI Cabang Berau mengirimkan 13 kader untuk ikut serta dalam aksi. Formatur HMI Berau, Ayatullah Khomeini, menegaskan kehadiran mereka sebagai bentuk kesolidan gerakan mahasiswa lintas daerah.
“Kami datang mengikuti instruksi Badko HMI Kaltim-Kaltara untuk aksi serentak. Ini adalah momentum konsolidasi gerakan mahasiswa di wilayah ini,” ujarnya.
Khomeini menambahkan, salah satu fokus utama mereka adalah menolak segala bentuk tindakan represif aparat terhadap mahasiswa.
Sementara itu, Ketua HMI Cabang Tarakan, Masaude, menyatakan kehadiran mereka sebagai bentuk keprihatinan atas insiden kekerasan yang dialami kader HMI Tanjung Selor pada aksi sebelumnya. Menurutnya, dua kader mengalami luka bakar dan satu lainnya cedera akibat dugaan kekerasan oleh aparat.
“Kami datang memperjuangkan nilai kemanusiaan. Insiden ini harus diusut tuntas,” ujarnya.
Lebih jauh, Masaude juga mengungkap empat kasus yang menurutnya menjadi sorotan dan harus diusut secara terbuka:
Dugaan penukaran barang bukti 12 kg sabu menjadi tawas, tanpa keterlibatan lembaga independen dalam uji laboratorium. Kasus pencurian 7 gram sabu oleh dua anggota Tahti Polda Kaltara dari ruang barang bukti. Keterlibatan Kasat Reskoba Polres Nunukan dalam jaringan penyelundupan narkoba. Dugaan upaya pembebasan empat tersangka narkoba oleh pihak internal kepolisian.
“Harus ada tindakan tegas. Pecat secara tidak hormat Kasat Reskoba dan bawa ke pengadilan. Ini bukan sekadar soal internal, tapi menyangkut kepercayaan publik,” tegas Masaude.
Hingga Minggu malam, persiapan aksi di berbagai titik di Tanjung Selor. Diperkirakan, aksi demonstrasi ini akan menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah Kalimantan Utara, dengan mahasiswa dari berbagai daerah bersatu menuntut reformasi dalam institusi penegak hukum.
