BUNTOK — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah semakin mengkhawatirkan. Asap pekat menyelimuti jalur Trans Palangkaraya–Buntok, Kabupaten Barito Selatan (Barsel), hingga mengganggu aktivitas warga dan pengguna jalan.

Sejumlah warga mengaku mulai mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap yang berlangsung dalam waktu lama. Kondisi terparah dirasakan di sepanjang ruas Palangkaraya–Buntok, di mana jarak pandang menurun drastis.
Risa, warga Muara Teweh, mengatakan perjalanan dari Palangkaraya menuju Buntok pada Minggu (20/9/2026) memakan waktu sekitar lima jam akibat pekatnya asap.

“Tadi berangkat dari Palangkaraya sekitar jam 08.00 WIB dan baru tiba di Buntok jam 13.00 WIB. Sepanjang jalan asap sangat pekat dan bikin dada sesak. Saya juga melihat sedikitnya ada empat titik lahan terbakar yang sedang diupayakan pemadamannya oleh petugas BPBD dan relawan,” ujarnya.

Warga Buntok, Rahman, menuturkan masyarakat Barsel telah hidup berdampingan dengan kabut asap selama lebih dari satu bulan. Menurutnya, upaya pemadaman terkendala kekeringan yang menyebabkan sumber-sumber air di sekitar lokasi kebakaran mengering.
“Masyarakat dan petugas terus berupaya memadamkan api. Kendalanya titik air sangat jauh karena sudah tidak hujan sejak Juni. Kolam alami dan selokan banyak yang kering, sehingga air harus diambil dari lokasi yang cukup jauh,” katanya.

Sementara itu, data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Barito Selatan menunjukkan peningkatan signifikan jumlah titik panas sepanjang tahun ini. Berdasarkan data yang dilansir Antara, tercatat 2.037 hotspot selama periode Januari hingga Agustus 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Barsel, Agus In’yulius, menyebut lonjakan tertinggi terjadi pada Agustus dengan 1.938 titik panas.
“Jumlah hotspot tersebut tersebar di enam kecamatan, yakni Dusun Selatan 478 titik, Dusun Utara 121 titik, Gunung Bintang Awai 108 titik, Jenamas 357 titik, Karau Kuala 96 titik, dan terbanyak di Kecamatan Dusun Hilir dengan 877 titik,” ujarnya.
Minimnya curah hujan dan terbatasnya sumber air membuat upaya pemadaman belum optimal. Warga berharap pemerintah daerah maupun pusat dapat memperkuat penanganan karhutla, termasuk dukungan armada pemadaman udara, guna mencegah dampak yang lebih luas terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan.(mn)
