PONTIANAK – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Barat menilai pemerintah daerah hingga pemerintah desa perlu menyiapkan perahu karet sebagai peralatan dasar kebencanaan, khususnya di wilayah yang rawan banjir dan banjir bandang.
Koordinator Harian Pusdalops PB BPBD Kalbar Daniel mengatakan, ketersediaan perahu karet di tingkat desa sangat penting mengingat banjir bandang dapat terjadi secara tiba-tiba dan membutuhkan respons cepat sebelum bantuan tiba.
“Bayangkan jika banjir bandang datang mendadak, sementara di desa tersebut tidak ada satu pun perahu. Itu sangat berisiko. Minimal satu perahu karet harus tersedia dan siap digunakan,” ujarnya, Rabu (14/1/2026).
Ia mengungkapkan, dari sisi internal BPBD, jumlah personel masih tergolong minim dan tidak seluruhnya memiliki keterampilan khusus dalam evakuasi dan penyelamatan korban bencana. Oleh karena itu, penanganan bencana selama ini juga melibatkan relawan, TNI, Polri, serta instansi terkait lainnya.
Selain keterbatasan personel, masalah utama lainnya adalah keterbatasan fasilitas dan peralatan kebencanaan. Perahu karet dan tenda darurat sebagai peralatan dasar dinilai masih belum mencukupi, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota.
Menurutnya, pasca pandemi COVID-19, bantuan peralatan dari pemerintah pusat semakin terbatas. Kondisi ini membuat pemerintah daerah diharapkan dapat mengalokasikan pengadaan peralatan kebencanaan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Kalau mengandalkan bantuan dari pusat tentu terbatas. Seharusnya pengadaan peralatan dasar kebencanaan bisa diakomodir di APBD, termasuk hingga ke tingkat desa,” jelasnya.
BPBD Kalbar juga menegaskan bahwa seluruh wilayah di Kalimantan Barat, baik daerah perhuluan maupun pesisir, berpotensi mengalami banjir bandang. Oleh karena itu, langkah antisipasi perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pembenahan infrastruktur sungai dan drainase, hingga menjaga kelestarian lingkungan dan kawasan hutan.
“Bencana itu sebenarnya bisa diantisipasi. Infrastruktur harus berfungsi baik, lingkungan dijaga, dan peralatan dasar harus tersedia. Jika semua itu siap, risiko korban dapat ditekan,” pungkasnya.*
