TARAKAN – Keluarga almarhumah SS (38), warga Kelurahan Juata Korpri, Kota Tarakan, Kalimantan Utara, mempertanyakan sejumlah hal dalam penanganan medis yang dijalani sebelum pasien meninggal dunia.
Keluarga menduga terdapat kejanggalan dalam penanganan SS, mulai dari diagnosis awal yang disebut sebagai kista, tindakan operasi, rencana rujukan yang disebut tidak terlaksana, hingga persoalan rekam medis pasien.
Dugaan tersebut disampaikan keluarga setelah SS meninggal dunia pada 2 September 2026, dua hari setelah menjalani operasi.
Wara, tante almarhumah, mengatakan masalah kesehatan SS bermula ketika korban mengeluhkan sakit di bagian perut.
Setelah menjalani pemeriksaan, dokter disebut menyampaikan adanya kista dan menyarankan pasien menjalani operasi.
Namun menurut keterangan yg terima keluarga saat operasi dilakukan dokter tidak mengangkat kista sebagaimana tujuan operasi itu dilakukan, dengan alasan kista itu menempel pada usus. Pihak keluarga meminta Rekam Medis pasien namun dokter tidak bisa membuktikannya.
Pihak rumah sakit, kata Wara, kemudian menjelaskan bahwa penyakit yang diduga kista tersebut berada atau melekat pada bagian usus sehingga membutuhkan peralatan tertentu yang tidak tersedia di rumah sakit.
“Lalu luka operasinya ditutup kembali dan katanya akan dirujuk ke rumah sakit yang memiliki alat lengkap,” kata Wara, Sabtu (5/9/2026).
Keluarga kemudian mempertanyakan tindakan operasi yang dilakukan terhadap SS.
Pasalnya, diagnosis awal yang diketahui keluarga adalah kista. Namun, dalam penjelasan setelah operasi, keluarga justru mendapat informasi bahwa bagian yang bermasalah berkaitan dengan usus.
Menurut keluarga, kista yang mereka pahami seharusnya berada di bagian rahim.
Keadaan tersebut membuat keluarga mempertanyakan diagnosis awal hingga tindakan medis yang dilakukan terhadap SS.
Keluarga juga mempertanyakan rencana rujukan setelah operasi disebut tidak dapat menyelesaikan masalah yang ditemukan.
Menurut mereka, rumah sakit sempat menyampaikan akan merujuk SS ke fasilitas kesehatan lain yang memiliki peralatan lebih lengkap. Namun, rujukan tersebut disebut tidak kunjung dilakukan hingga pasien akhirnya meninggal dunia.
“Beberapa hari sampai pasien meninggal, tidak ada rujukan,” ujar Wara.
Keluarga juga mempertanyakan kondisi SS setelah operasi. Menurut keterangan keluarga, pasien diminta berpuasa selama dua hari.
Setelah menjalani masa tersebut, SS kemudian mendapat obat. Beberapa menit setelah mengonsumsi obat, kondisi pasien memburuk hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Sebelumnya, keluarga menyebut SS sempat mengeluhkan mual setelah meminum obat. Pasien juga disebut merasa tidak kuat dan mengalami muntah.
Kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang ingin diketahui keluarga, termasuk apakah keluhan pasien telah diketahui dokter atau perawat dan bagaimana respons medis terhadap keluhan tersebut.

Persoalan lain yang dipermasalahkan keluarga adalah akses terhadap rekam medis pasien.
Keluarga mengaku telah meminta dokumen yang mencatat kondisi SS sejak pemeriksaan awal hingga tindakan operasi. Namun, mereka menyebut tidak mendapatkan rekam medis tersebut.
Keluarga ingin mengetahui secara utuh diagnosis awal, hasil pemeriksaan, termasuk pemeriksaan penunjang, hingga dasar keputusan dilakukannya operasi.
Tidak adanya dokumen tersebut membuat keluarga semakin mempertanyakan penanganan yang diterima SS.
Keluarga juga telah beberapa kali melakukan mediasi dengan pihak rumah sakit. Namun, menurut mereka, belum ada penjelasan yang dapat menjawab seluruh pertanyaan keluarga.
Keluarga menyebut pihak rumah sakit tetap berpendapat bahwa kematian SS merupakan takdir.
Sementara itu, Humas Rumah Sakit Pertamina Tarakan, Riri, menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya SS.
Melalui pesan WhatsApp, Selasa (15/9/2026), manajemen Rumah Sakit Pertamina Tarakan mengatakan pihaknya senantiasa mengutamakan keselamatan pasien dan memberikan pelayanan sesuai standar yang berlaku.
“Terkait adanya informasi mengenai dugaan malapraktik, Rumah Sakit Pertamina Tarakan senantiasa mengedepankan keselamatan pasien dan pelaksanaan pelayanan sesuai standar yang berlaku,” kata Riri dalam keterangannya.
Pihak rumah sakit juga menyatakan telah melakukan penelaahan terhadap rangkaian pelayanan yang diberikan kepada pasien berdasarkan data dan dokumentasi medis yang tersedia.
Manajemen rumah sakit mengaku telah berkomunikasi dengan keluarga dan memberikan penjelasan mengenai kondisi pasien serta proses pelayanan yang telah dijalani.
Namun, ketika ditanya secara spesifik mengenai diagnosis kista, hasil operasi, alasan pasien berpuasa selama dua hari, keluhan mual setelah mengonsumsi obat, rekam medis, serta rencana rujukan setelah operasi, rumah sakit tidak memberikan penjelasan rinci.
“Terkait dengan semua pertanyaan tersebut sebelumnya sudah kami jelaskan semuanya ke pihak keluarga. Jawaban-jawaban tersebut terkait dengan privasi pasien dan keluarga,” ujar Riri.
Saat dikonfirmasi mengenai apakah keluarga telah mendapatkan jawaban secara spesifik dari Rumah Sakit Pertamina Tarakan terkait diagnosis kista, hasil operasi, alasan pasien berpuasa selama dua hari, keluhan mual setelah mengonsumsi obat, rekam medis, serta rencana rujukan setelah operasi, adik almarhumah SS, Yunita Risky, mengatakan keluarga belum mendapatkan penjelasan resmi mengenai sejumlah hal tersebut.
“Terkait diagnosis kista tidak ada, terkait hasil operasi juga tidak ada secara resmi, terkait pasien berpuasa selama dua hari usai operasi dilakukan secara lisan. Terkait keluhannya mual setelah konsumsi obat, menurut dokter, setelah mengonsumsi obat antibiotik kondisi pasien menjadi lemah dan kemudian meninggal. Rekam medis operasi tidak ada dan terkait rujukan operasi ke rumah sakit yang ditunjuk, setelah pasien meninggal baru disampaikan bahwa pasien ditolak oleh rumah sakit rujukan,” ujar Yunita Risky, adik almarhumah SS, Jumat (18/9/2026).
Hingga kini, keluarga masih mempertanyakan rangkaian penanganan medis yang diterima SS.
