Kalimantan Barat

ISPA Meningkat di 7 Kabupaten/Kota, Pontianak Catat Kasus Tertinggi

Avatar photo
Oleh Destriadi Yunas
Ukuran Font
Kecil Besar

PONTIANAK – Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat memberikan perhatian khusus terhadap peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di sejumlah daerah. Pada minggu ke-32 tahun 2026, sedikitnya tujuh kabupaten/kota tercatat mengalami peningkatan kasus dibandingkan minggu sebelumnya.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, dr Erna Yulianti, mengatakan tujuh wilayah tersebut yakni Ketapang, Bengkayang, Kapuas Hulu, Sintang, Sanggau, Mempawah, dan Kota Pontianak.

Peningkatan kasus tersebut menjadi perhatian karena sebagian wilayah yang mengalami kenaikan juga berada di daerah dengan aktivitas hotspot yang cukup tinggi.

“Peningkatan kasus tercatat pada tujuh kabupaten/kota yaitu Ketapang, Bengkayang, Kapuas Hulu, Sintang, Sanggau, Mempawah, dan Kota Pontianak,” ujar Erna.

Dari tujuh wilayah tersebut, Kota Pontianak mencatat jumlah kasus ISPA tertinggi. Sementara itu, peningkatan yang dinilai cukup signifikan terlihat di Kabupaten Ketapang, Kapuas Hulu, dan Sintang.

Menurut Erna, perkembangan tersebut diketahui melalui pemantauan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) yang dilakukan secara mingguan.

SKDR bekerja dengan membaca sinyal peningkatan kasus dari fasilitas pelayanan kesehatan. Ketika terjadi fluktuasi yang cukup signifikan, sistem akan menghasilkan alert yang kemudian menjadi bahan evaluasi bagi Dinas Kesehatan.

Pada minggu ke-32, Kota Pontianak tercatat memiliki sembilan alert. Kabupaten Ketapang mencatat enam alert, sedangkan Kabupaten Sintang dan beberapa wilayah lainnya tercatat lima alert.

“Alert ini adalah sistem yang membaca sinyal dari SKDR. Artinya terjadi peningkatan fluktuasi,” jelas Erna.

Dinas Kesehatan menjadikan data tersebut sebagai dasar untuk memperkuat pemantauan di daerah yang mengalami peningkatan.

Selain Pontianak, Ketapang, Kapuas Hulu dan Sintang, sejumlah wilayah lain seperti Kubu Raya dan Mempawah juga terus dipantau.

Pemantauan dilakukan dengan melihat perkembangan kasus di fasilitas pelayanan kesehatan sekaligus membandingkannya dengan kondisi lingkungan di masing-masing wilayah.

Hal ini penting dilakukan karena peningkatan ISPA terjadi pada periode yang berdekatan dengan meningkatnya aktivitas hotspot di Kalimantan Barat.

Dinas Kesehatan tidak ingin terburu-buru menyimpulkan bahwa kenaikan kasus ISPA sepenuhnya disebabkan oleh karhutla. Menurut Erna, ISPA memiliki banyak faktor risiko dan penyebab.

Namun, paparan asap karhutla tetap menjadi salah satu faktor yang harus diantisipasi karena asap mengandung partikel yang dapat mengganggu sistem pernapasan, terutama bagi masyarakat yang berada dekat dengan titik kebakaran.

“Kasus-kasus laporan ISPA yang dilaporkan kepada kami tidak semata-mata karena karhutla. Bisa saja dengan penyakit lainnya yang juga terlaporkan merupakan infeksi saluran pernapasan,” katanya.

Karena itu, Dinkes akan terus menyandingkan data kasus ISPA dengan perkembangan hotspot. Daerah yang menunjukkan lonjakan kasus sekaligus memiliki hotspot tinggi akan menjadi wilayah prioritas pemantauan kesehatan.

Selain masyarakat umum, Dinkes memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan. Anak-anak, terutama balita, ibu hamil, lansia, serta masyarakat dengan kondisi kesehatan tertentu diminta lebih waspada.

Petugas dan masyarakat yang ikut terlibat dalam penanganan karhutla juga menjadi bagian dari pemantauan kesehatan.

Masyarakat diminta menggunakan masker ketika berada di luar rumah dan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila tidak diperlukan.

Dengan pemantauan tersebut, Dinas Kesehatan berharap perubahan kondisi kesehatan masyarakat dapat segera terdeteksi sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat.