TENGGARONG – Festival 1.000 Tumpeng dan Gelar Budaya di Desa Margahayu, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, didorong tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan.
Kegiatan yang menampilkan beragam kesenian tradisional tersebut dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai salah satu daya tarik wisata sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat.
Kapolsek Loa Kulu AKP H. Hari Supranoto mengatakan festival yang melibatkan 18 paguyuban kesenian jaranan dan reog se-Kecamatan Loa Kulu tersebut memiliki nilai budaya sekaligus sosial yang kuat.
Menurut dia, kegiatan tersebut menjadi wadah bagi masyarakat untuk menjaga tradisi leluhur sekaligus memperkuat persatuan melalui semangat gotong royong.
“Pagelaran ini selain menjadi simbol gotong royong dan persatuan, ini juga menjadikan kita bersyukur atas nikmat Tuhan. Ini tradisi yang luhur dari orang Nusantara,” kata Hari saat menghadiri penutupan festival di Desa Margahayu, Minggu (30/8/2026).
Festival 1.000 Tumpeng telah berlangsung sejak 25 Agustus 2026 dan digelar dalam dua zona. Zona pertama dipusatkan di Desa Loa Kulu Kota, sedangkan zona kedua berlangsung di Desa Margahayu pada 28-30 Agustus 2026.
Berbagai pertunjukan seni tradisional ditampilkan dalam rangkaian kegiatan tersebut. Di antaranya reog, kuda lumping, jambilan serta kesenian Jawa lainnya.
Pada penutupan, masyarakat kembali disuguhkan pertunjukan kuda lumping dari sejumlah paguyuban yang ikut ambil bagian dalam festival.
Hari mengatakan kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi Paguyuban Turangga Seta Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa Ing Martapura dengan 18 paguyuban seni lainnya.
Pelaksanaan festival juga mendapat dukungan dari masyarakat, akademisi, budayawan serta berbagai unsur lainnya.
Menurut Hari, keterlibatan banyak pihak menunjukkan bahwa kegiatan budaya dapat menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai elemen masyarakat.
“Harapan yang pertama, warisan budaya leluhur patut kita lestarikan. Kedua, proses ini bisa mempersatukan kita. Dan yang terakhir, ini bentuk rasa syukur kita melalui Festival 1.000 Tumpeng,” ujarnya.
Berpotensi Jadi Daya Tarik Wisata
Wakapolres Kutai Kartanegara Kompol Izdiharuddin Faris Raharja Putra turut mengapresiasi pelaksanaan festival tersebut.
Ia menilai keberhasilan kegiatan tidak terlepas dari gotong royong masyarakat dan berbagai pihak yang terlibat.
Menurut Faris, keberagaman budaya yang dimiliki Kukar seharusnya dapat menjadi kekuatan untuk mempererat persaudaraan sekaligus menjadi modal dalam mengembangkan daerah.
“Budaya bukan sekadar hiburan. Budaya adalah identitas, jati diri, sejarah, dan warisan berharga yang harus kita jaga bersama,” tegasnya.
Polres Kukar, kata dia, mendukung kegiatan masyarakat yang bersifat positif, khususnya kegiatan yang menjaga kearifan lokal, memperkuat persatuan, dan menciptakan situasi keamanan yang kondusif.
Festival tersebut turut dihadiri Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura H. Aji Muhammad Arifin beserta rombongan Kesultanan, perwakilan Pemkab Kukar, kepala desa se-Kecamatan Loa Kulu, tokoh masyarakat, pelaku seni, serta warga.
Hari berharap pemerintah daerah dapat memberikan dukungan agar Festival 1.000 Tumpeng dapat digelar secara konsisten setiap tahun.
Menurut dia, festival tersebut tidak hanya penting untuk menjaga keberlangsungan tradisi, tetapi juga berpotensi mendatangkan wisatawan dan menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.
“Selain menjaga tradisi, festival ini kita harapkan mampu menjadi daya tarik wisata dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat di Kecamatan Loa Kulu,” pungkasnya.
