SAMARINDA — Aksi inspiratif ditunjukkan oleh para pelajar yang tergabung dalam Kader Digital Islam Sehat (KADIS) SD Muhammadiyah 4 Terpadu Samarinda. Dengan percaya diri, santun, dan menggunakan bahasa khas anak-anak, para kader cilik ini sukses mengedukasi 110 siswa sebaya mengenai bahaya perilaku merokok, Senin (31/8/2026).
Berbeda dari penyuluhan konvensional yang biasanya dibawakan oleh guru atau tenaga medis, kegiatan ini sepenuhnya memberikan panggung kepada 10 kader terlatih untuk tampil sebagai komunikator kesehatan. Mereka memaparkan bahaya rokok konvensional maupun rokok elektrik (vape), mengajarkan cara menolak ajakan merokok, hingga mengkampanyekan literasi digital yang sehat.
Program Kolaborasi UMKT dan Kemdiktisaintek RI
Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Program Pengabdian kepada Masyarakat BIMA Tahun 2026 dengan skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PKM). Program berjudul “Optimalisasi Kader Digital Islam Sehat (KADIS) sebagai Upaya Pencegahan Perilaku Merokok Sejak Dini” tersebut diinisiasi oleh tim dosen Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) bekerja sama dengan pihak sekolah.
Program ini memperoleh pendanaan resmi dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) RI. Tim pelaksana diketuai oleh Sri Sunarti, SKM., MPH., Ph.D., didampingi anggotanya Jubaidi, M.M. dan Ns. Andri Praja Satria, S.Kep., M.Sc., serta melibatkan mahasiswa UMKT dalam pendampingan teknis dan media edukasi.
Keberhasilan program ini juga tak lepas dari dukungan penuh pihak sekolah, yakni Kepala SD Muhammadiyah 4 Terpadu Samarinda Zainal Arifin, M.Pd.I., Wakil Kepala Sekolah Muhammad Nur Mannan, M.Pd., serta Penanggung Jawab UKS Darmayanti, A.Md.Kep.
Ketua Tim Pelaksana, Sri Sunarti, menjelaskan bahwa pemilihan metode pendidikan teman sebaya (peer education) sengaja dipilih agar pesan kesehatan lebih mudah dicerna oleh anak-anak.
“Anak-anak lebih mudah menerima pesan ketika disampaikan oleh teman sebaya dengan bahasa yang dekat dengan kehidupan mereka. Oleh karena itu, KADIS dilatih menjadi teladan sekaligus komunikator kesehatan yang berani, santun, kreatif, dan bertanggung jawab,” ujar Sri Sunarti.
Dalam praktiknya, edukasi dikemas secara interaktif melalui simulasi, tanya jawab ringan, pemutaran media visual, hingga ajakan bersama untuk mewujudkan lingkungan sekolah bebas asap rokok dan vape.
Proyeksi Menuju Gerakan “Satu Ranting Muhammadiyah, Satu KADIS”
Tidak berhenti di lingkungan sekolah dasar saja, model pemberdayaan KADIS ini dirancang memiliki keberlanjutan jangka panjang. Inovasi ini diproyeksikan menjadi cetak biru (blueprint) menuju gerakan masif “Satu Ranting Muhammadiyah, Satu Kader Digital Islam Sehat.”
Ke depan, setiap ranting Muhammadiyah diharapkan mampu melahirkan kader yang handal mengampanyekan kesehatan berbasis nilai Islam dan kecerdasan digital bagi remaja dan keluarga.
Dengan dukungan kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di sekolah, penyediaan modul, poster, hingga video edukasi digital, KADIS membuktikan bahwa anak-anak usia dini pun mampu menjadi agen perubahan nyata—melahirkan generasi yang sehat akhlaknya, sehat tubuhnya, dan cerdas digitalnya.(*/mn)
