Kalimantan Timur

Pasokan Sapi Hidup Dinilai Lebih Gerakkan Ekonomi Lokal di Kaltim

Avatar photo
Oleh Jalia
Ukuran Font
Kecil Besar

SAMARINDA – Skema pemasukan sapi hidup ke Kalimantan Timur dinilai memberikan dampak ekonomi lebih luas dibanding distribusi daging beku. Hal ini karena prosesnya melibatkan berbagai aktivitas ekonomi di tingkat lokal.

Kabid Perbibitan, Pakan, dan Produksi Peternakan DPKH Kaltim, Ihyan Nizam, mengatakan sapi hidup yang masuk ke daerah tidak langsung dipotong, melainkan melalui tahapan penggemukan terlebih dahulu.

“Sapi hidup digemukkan dulu sebelum dipotong,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (28/4/2026).

Menurutnya, proses tersebut membuka peluang ekonomi di berbagai sektor, mulai dari penyediaan pakan hingga tenaga kerja.

“Banyak sektor ikut bergerak dari proses itu,” katanya.

Ia menjelaskan, berbeda dengan daging beku yang hanya melalui jalur distribusi, sapi hidup menciptakan aktivitas dari hulu hingga hilir.

“Kalau daging beku hanya distribusi saja,” ucapnya.

Meski demikian, kebutuhan daging sapi di Kalimantan Timur hingga kini masih belum mampu dipenuhi sepenuhnya oleh produksi lokal.

“Pemenuhan kita baru sekitar 30 sampai 40 persen,” jelasnya.

Untuk mengurangi ketergantungan tersebut, pemerintah daerah mulai mendorong penguatan peternak lokal melalui berbagai program, salah satunya Desa Korporasi Peternakan Kaltim (PDKT).

“Peternak didorong tingkatkan kapasitas usaha,” ujarnya.

Program ini memberikan dukungan sarana dan prasarana, termasuk kandang, pakan, hingga pengolahan limbah, guna meningkatkan produktivitas ternak di tingkat masyarakat.

Seiring penguatan tersebut, pemerintah berharap produksi lokal dapat terus meningkat sehingga ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah bisa ditekan secara bertahap.