Nasional

Menjaga Nabire dengan Hati, Yeri Murib Ingatkan Warga Akan Perihnya Kehilangan

Avatar photo
Oleh Redaksi
Ukuran Font
Kecil Besar

NABIRE – Di tengah desas-desus rencana aksi demonstrasi yang mulai merayap di telinga warga Nabire, sebuah pesan penyejuk datang dari Yeri Murib. Sosok yang dikenal sebagai tokoh pemuda sekaligus tokoh gereja di Kabupaten Nabire, Papua Tengah ini, memilih bersuara bukan untuk membungkam aspirasi, melainkan untuk menjaga denyut nadi persaudaraan agar tidak terhenti oleh kekerasan.

Pada Sabtu siang yang tenang, Yeri menyampaikan pesan yang menyentuh sisi terdalam kemanusiaan: tentang harga sebuah nyawa dan duka yang ditinggalkan bagi keluarga.

Bagi Yeri, isu demonstrasi bukan sekadar mobilisasi massa, namun ada kekhawatiran besar tentang keselamatan warga, terutama mereka yang berada di Nabire Timur dan Nabire Barat. Ia membayangkan wajah-warga sederhana yang mungkin terjebak di tengah kericuhan tanpa tahu menahu pangkal persoalannya.

“Kami dengar-dengar ada isu akan demo. Demo ini nanti merujuk pada jatuhnya korban, masyarakat yang tidak tahu apa-apa bisa saja ikut kena imbasnya,” ujar Yeri dengan nada cemas.

Ia mengingatkan bahwa dalam setiap kerumunan yang tak terkendali, batas antara aspirasi dan tragedi menjadi sangat tipis. Baginya, mencegah jatuhnya korban adalah misi kemanusiaan yang lebih tinggi dari kepentingan politik mana pun.

Narasi yang dibangun Yeri sangat menyentuh sisi domestik. Ia mengajak masyarakat membayangkan ruang tamu di rumah-rumah mereka. Jika satu orang memutuskan untuk turun ke jalan dan akhirnya pulang dalam keadaan tak bernyawa atau terluka, maka kursi-kursi di rumah itu akan dipenuhi isak tangis yang panjang.

“Jangan ikut bergabung dalam demo-demo yang berisiko. Efeknya pasti akan ada korban,” katanya dengan tegas namun penuh kasih.

Ia melanjutkan dengan sebuah kalimat yang mendalam tentang ikatan darah, “Bukan satu orang itu saja yang akan merasa sakit. Jika satu orang jadi korban, maka seluruh anggota keluarga akan ikut merasakan sakit dan kesedihan yang sama.”

Sebagai tokoh gereja, Yeri memahami bahwa kedamaian adalah pondasi untuk beribadah dan bekerja. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat di Papua Tengah untuk melihat Nabire sebagai rumah bersama yang harus dijaga atap dan dindingnya dari api provokasi.

Imbauan ini bukan sekadar langkah preventif demi stabilitas keamanan semata, melainkan wujud rasa sayang seorang tokoh kepada warganya. Ia ingin memastikan bahwa hari-hari ke depan di Nabire tetap diisi dengan tawa anak-anak dan aktivitas pasar yang normal, bukan dengan berita duka atau tangisan di rumah sakit.

Di akhir pesannya, Yeri kembali mengajak semua pihak untuk menarik napas dalam-dalam, berpikir jernih, dan tetap menjaga situasi agar tetap kondusif. Karena pada akhirnya, kedamaian adalah warisan terbaik yang bisa diberikan untuk anak cucu di bumi Nabire.(mn)