Kalimantan Timur

Masrani Hidupkan Kearifan Lokal Paser Lewat Pot Bunga Solong

Avatar photo
Oleh Ana
Ukuran Font
Kecil Besar

PENAJAM – Penggiat lingkuangan asal Penajam Paser Utara (PPU), Masrani melestarikan budaya Paser lewat cara unik.

Selama dua tahun terakhir, ia mengembangkan pot bunga berbentuk solong (lanjong), wadah tradisional suku Paser yang dahulu dipakai untuk mengangkut hasil pertanian.

“Inspirasi ini berawal dari kegemaran saya menanam. Lalu saya pikir, kenapa tidak dikaitkan dengan kearifan lokal? Maka lahirlah pot berbentuk solong dan lanjong ini,” katan Masrani saat ditemui, Minggu (17/8/2025).

Pot tersebut dibuat dari bahan semen, dicetak diberi corak dengan empat warna khas budaya Paser yakni kuning, merah, hitam, dan putih.

Ditegaskan, setiap warna mengandung makna tersendiri dalam tradisi masyarakat.

Menurutnya, upaya sederhana ini bukan hanya untuk penghias taman, melainkan juga sebagai simbol agar masyarakat tidak melupakan akar budaya.

“Semoga Pemkab PPU bisa merespons. Kalau sudah disosialisasikan, mungkin ada lagi kearifan lokal lain yang bisa kita kembangkan lewat kreasi,” tambahnya.

Pot bunga solong (lanjong) yang mengangkat budaya Paser (Ana/Jurnalborneo)

Inovasi Masrani mendapat sambutan positif dari Sultan Paser ke-III, Aji Muhammad Jarnawi. Dia bahkan mendapat undangan khusus ke kediaman Sultan dan menyerahkan pot karyanya secara langsung.

Masrani juga menerima Piagam Penghargaan dari Kesultanan Paser pada Rabu, 13 Agustus 2025, sebagai bentuk apresiasi terhadap kepedulian dan inovasinya melestarikan budaya lewat media pot bunga.

Hingga kini, pot bunga solong dan lanjong karya Masrani sudah dipasang di dua lokasi, yakni di halaman Kantor Bupati PPU sebanyak 15 unit, dan kediaman Sultan Paser sebanyak delapan unit.

Meski belum didistribusikan ke masyarakat luas, ia berencana membagikan pot itu ke instansi-instansi pemerintahan sebagai lambang kearifan lokal Paser.

“Selama ini kita sering melihat budaya hanya dari sisi pertunjukan atau upacara adat. Saya ingin menunjukkannya dalam bentuk lain, yang bisa dilihat setiap hari, bahkan di pekarangan rumah,” pungkasnya.