BANJARMASIN – Makam Habib Hamid Bahasyim atau yang lebih dikenal dengan sebutan Wali Qutub Banjar menjadi salah satu pusat ziarah yang tak pernah sepi di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Terletak di Jalan Keramat Basirih, RT 09/RW 01, Kecamatan Banjarmasin Barat, makam ini menjadi tujuan ribuan peziarah dari berbagai daerah setiap harinya.
Habib Hamid Bahasyim merupakan ulama besar Kalimantan Selatan yang diperkirakan lahir pada 1860-an dan wafat pada 18 Jumadilawal 1949 dalam usia lebih dari 90 tahun. Beliau dikenal sebagai pemegang Pasak Banjar, seorang ulama kharismatik yang hidup zuhud serta mendalami ilmu tasawuf. Hingga kini, sosoknya tetap menjadi panutan bagi masyarakat Banjar.
Junairi (47), salah satu relawan yang sudah 10 tahun menjaga area kubah, mengatakan bahwa peziarah selalu berdatangan setiap hari, tanpa mengenal waktu.
“Setiap hari pasti ada saja yang datang ziarah. Apalagi yang masuk ke dalam kubah, itu memang tidak pernah kosong,” ujar Junairi saat ditemui, Kamis (17/7/2025).

Menurutnya, waktu paling ramai biasanya saat malam Jumat, malam Minggu, dan hari Minggu. Pada waktu-waktu tersebut, jumlah peziarah bisa mencapai ribuan orang.
“Kadang sampai ada 10 sampai 20 bus yang datang. Dari subuh sudah mulai ada peziarah, terus saja mengalir sampai malam. Malam Minggu itu kadang sampai jam 2 pagi masih ramai,” katanya.
Ia menambahkan, saat pandemi Covid-19, Kubah Habib Hamid sempat ditutup sementara. Namun, peziarah tetap berdatangan, meski hanya bisa berdoa dari luar pagar.
“Habib Hamid ini dikenal sebagai Wali Qutub Banjar, pemegang Pasak Banjar. Jadi, dari dulu sampai sekarang, tidak pernah sepi peziarah, bahkan saat pandemi,” tambahnya.
Sementara itu, H. Hamka (47), relawan lain yang sudah 13 tahun menjaga kubah, menyebutkan bahwa peziarah tidak hanya datang dari Kalimantan Selatan.
“Yang paling jauh itu ada dari Jawa, sering juga dari Kalimantan Tengah. Dari Samarinda, Kalimantan Timur, setiap malam Minggu dan hari Minggu juga banyak yang datang,” ujarnya.

Hamka juga mengatakan, pihaknya rutin membersihkan area makam dua kali dalam seminggu, yakni pada malam Rabu dan malam Minggu. Namun, masalah kebersihan masih menjadi tantangan karena tidak semua peziarah sadar membuang sampah pada tempatnya.
“Kadang masih ada yang buang sampah sembarangan, walaupun sudah ada tulisan peringatan dan tempat sampah. Dalam satu minggu, sampah yang terkumpul bisa sampai satu truk penuh,” ungkapnya.
Ia berharap para peziarah tetap menjaga adab saat berziarah.
“Kami berharap para peziarah yang datang ke sini mendapatkan keberkahan dan doa-doanya dikabulkan. Di tempat waliyullah, insya Allah doa akan lebih mudah dikabulkan. Tapi tolong jaga adab di dalam kubah, jangan selfie-selfie karena ini tempat ziarah, bukan tempat wisata,” ujar H. Hamka.
Ia juga mengingatkan agar para peziarah menjaga kebersihan dengan membuang sampah pada tempatnya. Jika tempat sampah penuh, relawan berharap pengunjung bersedia membawa pulang sampah masing-masing agar area makam tetap bersih dan nyaman.
Sementara itu, salah satu peziarah dari Samarinda, Fitri (26), juga membenarkan ramainya peziarah di Makam Habib Hamid Basirih.
“Kalau saya lihat memang selalu rame di sini. Saya dari Samarinda, tapi sebenarnya orang asli Banjar. Mudah-mudahan tempat ini selalu terjaga dan kita semua mendapatkan berkah,” tuturnya.
Kubah Habib Hamid Basirih kini telah menjadi ikon religius sekaligus warisan budaya Banjar yang terus dijaga keberadaannya.(*)
