SAMARINDA – Inflasi di Provinsi Kalimantan Timur pada Februari 2026 tercatat tetap terjaga menjelang momentum Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah. Kondisi ini menunjukkan stabilitas harga kebutuhan masyarakat masih terkendali di tengah meningkatnya permintaan musiman.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Jajang Hermawan, menyampaikan bahwa berdasarkan data Indeks Harga Konsumen (IHK), inflasi Kaltim pada Februari 2026 tercatat sebesar 0,60 persen secara bulanan (month to month/mtm).
“Secara tahunan, inflasi Kalimantan Timur berada di level 4,64 persen (year on year/yoy). Angka ini masih lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 4,76 persen,” ujarnya Selasa (3/3/2026).
Ia menjelaskan, inflasi Februari terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau seiring meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Ramadan. Kelompok ini mencatat inflasi sebesar 0,97 persen (mtm) dengan andil utama berasal dari komoditas pangan strategis.
Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga turut menyumbang inflasi akibat kenaikan harga emas perhiasan yang mengikuti tren harga global.
Meski demikian, tekanan inflasi lebih lanjut berhasil tertahan oleh penurunan harga pada kelompok transportasi. Penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi pada Februari 2026 sebesar 3–4 persen dinilai membantu menjaga stabilitas harga di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat.
Jajang menegaskan, pengendalian inflasi daerah terus diperkuat melalui sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di seluruh wilayah Kalimantan Timur.
“TPID secara konsisten menjalankan strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta komunikasi efektif,” jelasnya.
Sepanjang Januari hingga Februari 2026, TPID telah melaksanakan lebih dari 75 kegiatan pengendalian inflasi, mulai dari operasi pasar murah, gerakan pangan murah, hingga koordinasi lintas daerah untuk menjaga pasokan menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Bank Indonesia optimistis langkah sinergis pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan mampu menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat selama bulan suci Ramadan hingga Hari Raya Idulfitri mendatang.
SAMARINDA – Inflasi di Provinsi Kalimantan Timur pada Februari 2026 tercatat tetap terjaga menjelang momentum Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah. Kondisi ini menunjukkan stabilitas harga kebutuhan masyarakat masih terkendali di tengah meningkatnya permintaan musiman.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Jajang Hermawan, menyampaikan bahwa berdasarkan data Indeks Harga Konsumen (IHK), inflasi Kaltim pada Februari 2026 tercatat sebesar 0,60 persen secara bulanan (month to month/mtm).
“Secara tahunan, inflasi Kalimantan Timur berada di level 4,64 persen (year on year/yoy). Angka ini masih lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 4,76 persen,” ujarnya Selasa (3/3/2026).
Ia menjelaskan, inflasi Februari terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau seiring meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Ramadan. Kelompok ini mencatat inflasi sebesar 0,97 persen (mtm) dengan andil utama berasal dari komoditas pangan strategis.
Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga turut menyumbang inflasi akibat kenaikan harga emas perhiasan yang mengikuti tren harga global.
Meski demikian, tekanan inflasi lebih lanjut berhasil tertahan oleh penurunan harga pada kelompok transportasi. Penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi pada Februari 2026 sebesar 3–4 persen dinilai membantu menjaga stabilitas harga di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat.
Jajang menegaskan, pengendalian inflasi daerah terus diperkuat melalui sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di seluruh wilayah Kalimantan Timur.
“TPID secara konsisten menjalankan strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta komunikasi efektif,” jelasnya.
Sepanjang Januari hingga Februari 2026, TPID telah melaksanakan lebih dari 75 kegiatan pengendalian inflasi, mulai dari operasi pasar murah, gerakan pangan murah, hingga koordinasi lintas daerah untuk menjaga pasokan menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Bank Indonesia optimistis langkah sinergis pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan mampu menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat selama bulan suci Ramadan hingga Hari Raya Idulfitri mendatang.*
