Bola dan Sport

Calon Ketum Gabsi Isradi Zainal Usung Digitalisasi dan Pembinaan

Avatar photo
Oleh Bert Toar Polii
Ukuran Font
Kecil Besar

JAKARTA – Menjelang Kongres XXVII Pengurus Besar Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (PB GABSI) yang akan memilih Ketua Umum periode 2026–2030, para kandidat mulai memaparkan visi, misi, dan program kerja mereka kepada keluarga besar bridge Indonesia.

Salah satu kandidat, Dr. Ir. Isradi Zainal, M.T., M.H., M.M., DESS., IPU., ASEAN Eng., menawarkan konsep kepemimpinan yang menitikberatkan pada modernisasi organisasi, pembinaan atlet berkelanjutan, pemanfaatan teknologi, serta peningkatan prestasi nasional dan internasional.

Dalam materi pencalonannya, Isradi mengusung visi “Mewujudkan PB GABSI sebagai organisasi yang profesional, modern, berbasis digital, serta mampu melahirkan prestasi nasional dan dunia melalui pembinaan yang merata dan berkelanjutan.”

Menurut Isradi, prestasi atlet tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga dipengaruhi kualitas tata kelola organisasi, sistem pembinaan yang baik, serta dukungan teknologi yang memadai. Karena itu, penguatan organisasi menjadi fondasi utama dalam mewujudkan kemajuan bridge Indonesia.

Untuk merealisasikan visi tersebut, Isradi merumuskan lima misi utama, yakni memperkuat organisasi yang transparan, akuntabel, dan kolaboratif; membangun ekosistem pembinaan yang merata dan berjenjang; mengembangkan kompetisi yang berkualitas dan berkesinambungan; meningkatkan prestasi di tingkat nasional, regional, dan internasional; serta mengoptimalkan teknologi dan inovasi dalam pengelolaan organisasi maupun pembinaan atlet.

Sebagai implementasi dari visi dan misi tersebut, Isradi memperkenalkan Sapta Karya Kerja “Isradi Zainal for Bridge 2026–2030” yang terdiri atas tujuh program prioritas.

Program pertama adalah mempertahankan eksistensi cabang olahraga bridge pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028. Menurutnya, keberadaan bridge dalam agenda olahraga nasional perlu terus dijaga sebagai bagian dari pembinaan dan pengembangan atlet.

Program kedua adalah penguatan pembiayaan melalui Sponsorship Corporate for Bridge dan Bapak Angkat Bridge Indonesia. Melalui program ini, ia menargetkan sedikitnya lima perusahaan nasional setiap tahun dapat menjadi mitra pendukung pembinaan bridge Indonesia.

Selanjutnya, Isradi mendorong penyelenggaraan Liga Bridge Perguruan Tinggi dan Liga Bridge Pelajar secara berkelanjutan mulai 2027 hingga 2030. Kompetisi tersebut diharapkan menjadi sarana pembinaan sekaligus regenerasi atlet muda.

Pada sektor pembinaan, ia juga menargetkan pemerataan program bridge junior di seluruh 38 provinsi dengan kelompok usia mulai U-12 hingga U-30. Langkah ini dinilai penting untuk menciptakan regenerasi atlet yang merata di seluruh Indonesia.

Selain itu, Isradi menempatkan digitalisasi dan sport science sebagai salah satu program utama. Pemanfaatan teknologi dan pendekatan ilmiah dalam pembinaan atlet diharapkan mampu meningkatkan kualitas latihan, evaluasi, serta pengembangan prestasi secara lebih terukur.

Program lainnya adalah peningkatan kualitas dan kuantitas keikutsertaan atlet Indonesia dalam berbagai kejuaraan nasional, regional, dan internasional guna memperkuat daya saing Indonesia di tingkat dunia.

Sebagai program jangka panjang, Isradi juga mengusulkan pembentukan Akademi Bridge Indonesia 2030 yang dirancang menjadi pusat pendidikan, pembinaan, riset, dan pengembangan atlet bridge nasional.

Dalam materi pencalonannya, Isradi menegaskan bahwa profesionalisme organisasi, pembinaan berkelanjutan, dan pemanfaatan teknologi merupakan kunci untuk membawa bridge Indonesia berkembang lebih maju. Gagasan tersebut dirangkum dalam semboyan yang diusungnya, yakni “Bersama Kita Kuat, Bersatu Kita Hebat, Bridge Indonesia Mendunia.”

Kongres XXVII PB GABSI akan menjadi forum penting bagi keluarga besar bridge Indonesia untuk menentukan arah kepemimpinan organisasi dan strategi pengembangan olahraga bridge nasional selama periode 2026–2030.(bert)

Topik