Utama

Buruh Sawit Hadapi Ancaman Berlapis: Agrokimia, Asap, hingga Krisis Air

Avatar photo
Oleh Destriadi Yunas
Ukuran Font
Kecil Besar

PONTIANAK – Pekerja perkebunan kelapa sawit di Kalimantan menghadapi risiko keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang semakin berat di tengah bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap yang melanda sejumlah wilayah.

Direktur Link-AR Borneo, Ahmad Syukri, mengatakan kerentanan pekerja sawit sebenarnya sudah tinggi karena setiap hari berhadapan dengan paparan bahan agrokimia. Kondisi tersebut kini diperparah dengan paparan asap akibat karhutla.

“Level kerentanan yang terjadi, terutama dalam aspek K3, itu sesungguhnya pada level yang sangat rentan. Ditambah dengan situasi sekarang, mereka mendapatkan level kerentanan yang berlipat ganda,” kata Ahmad Syukri, usai kegiatan Seminar K3 Berperspektif Gender, di Pontianak, Kalbar, Kamis (17/9/2026).

Menurutnya, pekerja sawit terpapar asap mulai dari perjalanan menuju tempat kerja, saat berada di perkebunan, hingga kembali ke tempat tinggal atau camp pekerja.

“Di tengah mereka terhubung dengan bahan agrokimia, paparan agrokimia setiap harinya, mereka juga di tengah situasi sekarang itu juga terpapar oleh kabut asap yang pada level yang sangat berbahaya,” ujarnya.

Ahmad menyebut kondisi di lingkungan perkebunan membuat pekerja tidak memiliki banyak pilihan untuk menghindari paparan asap. Bahkan, asap dapat masuk ke dalam camp tempat mereka tinggal.

“Dari mereka berangkat kerja, pada saat mereka bekerja di kebun sawit, saat pulang, dan saat mereka pulang ke rumah, asap-asap masuk ke dalam camp tanpa ada batasan-batasan tertentu,” katanya.

Atas kondisi tersebut, Link-AR Borneo meminta pemerintah dan perusahaan perkebunan memberikan perlindungan lebih kepada para pekerja sawit, baik perempuan maupun laki-laki.

Ahmad menilai pemberian alat pelindung diri (APD) dan masker yang layak menjadi kebutuhan penting, terutama ketika kualitas udara memburuk akibat karhutla.

“Kita harapkan bahwa dari pihak pemerintah, pihak perusahaan, itu juga memberikan perhatian yang lebih kepada pekerja sawit, baik perempuan maupun laki-laki, untuk diberikan APD, diberikan juga tambahan masker dan sebagainya yang layak bagi mereka,” tuturnya.

Selain paparan asap, pekerja sawit juga menghadapi persoalan air bersih di tengah kondisi kemarau panjang. Menurut Ahmad, pekerja bahkan harus mencari atau membeli air minum dari lokasi yang jauh dari camp mereka.

“Terlebih di situasi sekarang, kemarau panjang yang diprediksi sampai bulan Februari mendatang, itu mengharuskan mereka membeli air minum, mencari air minum di tempat-tempat yang sangat jauh dari camp yang mereka miliki,” katanya.

Ahmad menyebut data dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kalimantan Barat menunjukkan terdapat sekitar 170 ribu lebih pekerja yang tercatat di sektor sawit.

Namun, ia menilai angka tersebut belum menggambarkan keseluruhan pekerja yang berpotensi terdampak.

“Kalau di Kalimantan Barat, tadi sudah disampaikan, itu kurang lebih ada 170 ribu lebih data yang disampaikan oleh Disnakertrans Provinsi Kalimantan Barat. Tapi data itu pun juga mungkin belum lengkap, karena jumlah perusahaan ada 300 lebih di Kalimantan Barat,” ujarnya.

Secara nasional, Ahmad menyebut sektor perkebunan sawit melibatkan lebih dari 20 juta tenaga kerja. Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah dengan perkembangan perkebunan sawit yang besar.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat isu perlindungan pekerja menjadi penting, terlebih ketika risiko paparan yang selama ini berasal dari bahan agrokimia kini ditambah dengan kabut asap.

Persoalan lain yang disoroti Link-AR Borneo adalah keterlibatan pekerja dalam upaya pemadaman kebakaran di area konsesi perusahaan.

Ahmad mengatakan dalam sejumlah kondisi, pekerja dimobilisasi untuk membantu memadamkan api, namun perlindungan yang diberikan kepada mereka dinilai belum memadai.

“Mereka dimobilisasi untuk memadamkan api di dalam konsesi perusahaan. Tapi mereka tidak diberikan APD yang layak. Mereka tidak diberikan masker,” tegasnya.

Ia juga menyoroti peralatan yang digunakan pekerja ketika menjalankan tugas pemadaman.

“Tim pemadam api mereka menggunakan tangki sprayer untuk menyemprot racun. Itu pun hanya digunakan untuk memadamkan api. Jadi sangat tidak layak,” katanya.

Menurut Ahmad, pekerja yang memiliki tanggung jawab membantu menangani kebakaran di lingkungan tempat mereka bekerja seharusnya mendapatkan perlindungan keselamatan yang memadai.

“Kalau mereka tidak diperhatikan, kemudian mereka punya tanggung jawab untuk membantu memadamkan api di tempat mereka kerja, ya sangat disayangkan. Dan itu akan menambah risiko keselamatan bagi mereka,” ujarnya.

Ahmad menegaskan, aktivitas produksi sawit tidak seharusnya mengorbankan keselamatan dan kesehatan para pekerja.

“Tidak ada TBS seharga keselamatan dan kesehatan kerja. Tidak ada TBS seharga nyawa para pekerja buruh sawit,” pungkasnya.