SAMARINDA — Jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024, Akademisi Universitas 17 Agustus Samarinda (Untag), Wesley Hutasoit, menekankan pentingnya peningkatan literasi politik di kalangan masyarakat. Ia menggarisbawahi pemahaman politik yang baik tidak hanya membangun partisipasi yang lebih berkualitas, tetapi juga dapat menghindarkan masyarakat dari apa yang disebutnya sebagai “buta politik.”
“Literasi politik bukan hanya untuk mereka yang aktif di bidang politik, tetapi untuk semua generasi, terutama generasi milenial dan generasi Z, agar mereka memahami dampak politik di sekitar mereka,” ujar Wesley saat menghadiri acara #NgoPi-Kaltim Seri 7 di Teras Samarinda pada Jumat (8/11/ 2024).

Ia menyampaikan, generasi muda perlu dibekali dengan pemahaman yang lebih dalam agar dapat memahami kebijakan dan memilih pemimpin yang kompeten. Lebih lanjut, Wasley menambahkan, literasi politik memungkinkan masyarakat untuk melihat secara kritis situasi di sekitar mereka dan turut serta secara aktif dalam proses demokrasi.
Wasley juga mencatat setiap generasi memiliki cara yang berbeda dalam mengakses informasi.
“Generasi milenial cenderung mencari informasi dari buku fisik dan media berita, sedangkan generasi Z lebih banyak menggunakan media sosial dan konten audio-visual,” ujarnya.
Hal ini, menurutnya, memberikan tantangan bagi edukasi literasi politik yang harus beradaptasi dengan cara konsumsi informasi yang beragam.
Selain itu, Wesley juga menyoroti tantangan literasi politik di daerah terpencil, di mana akses terhadap internet dan informasi politik sering kali terbatas.
“Kita tidak boleh melupakan masyarakat di wilayah terpelosok. Akses yang tidak setara membuat mereka rentan terhadap ketertinggalan dalam hal partisipasi politik,” ujarnya.

Ia merujuk pada data Programme for International Student Assessment (PISA) yang menunjukkan rendahnya skor literasi membaca Indonesia, yakni peringkat 70 dari 80 negara. Indonesia tertinggal dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya seperti Thailand, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Kondisi ini, menurut Wesley, menunjukkan urgensi untuk meningkatkan literasi masyarakat demi menciptakan pemilih yang sadar dan kritis.
“Tidak hanya sekadar memilih, masyarakat harus memahami implikasi pilihan mereka,” tambahnya.
Literasi politik dapat menjadi tameng bagi masyarakat dalam menghadapi propaganda dan informasi yang salah.
“Masyarakat perlu memiliki literasi yang kuat, bukan untuk menjadi politisi, tetapi agar tidak mudah tersesat dalam kebingungan politik,” tegasnya.
Dengan semakin dekatnya Pilkada 2024, Wesley berharap masyarakat, khususnya generasi Z, dapat melihat politik sebagai tanggung jawab warga negara, bukan sekadar topik perdebatan. Menurutnya, upaya meningkatkan literasi politik harus terus didorong agar setiap warga negara dapat berpartisipasi secara aktif dan bijak.
“Perubahan tidak akan terjadi seketika, tetapi langkah pertama adalah memahami bahwa politik mempengaruhi kehidupan kita. Generasi Z perlu melihat ini sebagai kewajiban mereka sebagai warga negara,” pungkasnya.
