BONTANG – Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menemukan adanya seorang anak yang putus sekolah di kawasan Jalan Linmas 2, Kelurahan Bontang Lestari.
Diketahui, seorang anak telah putus sekolah, lantaran orang tua sang anak menghentikan pendidikan anak tersebut karena dinilai belum mampu membaca, sehingga tidak naik kelas selama dua tahun berturut-turut.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang, Abdu Safa Muha, menyampaikan bahwa pihaknya telah meminta dilakukan asesmen untuk mengetahui penyebab utama anak tersebut belum bisa membaca.
Ia menjelaskan, ada sejumlah kemungkinan yang perlu ditelusuri, mulai dari faktor kebiasaan penggunaan gawai hingga gangguan penglihatan seperti mata silinder.
“Kondisi kesehatan mata juga perlu diperiksa untuk memastikan apakah menjadi penghambat kemampuan membaca anak,” jelasnya, Rabu (1/4/2026).
Selain itu, hasil penelusuran sementara mengungkap bahwa anak tersebut sempat dibawa keluarganya ke Tenggarong sejak kelas II SD.
Namun, selama berada di sana, ia tidak bersekolah dan kemudian kembali ke Bontang.
Pihak sekolah sempat berupaya mengajak anak tersebut kembali bersekolah, namun keluarga beralasan akan memasukkannya ke pesantren. Rencana tersebut pun tidak terealisasi.
“Setelah asesmen nanti, akan ditentukan langkah selanjutnya. Kalau orang tua tetap menolak, tentu ada upaya, bisa dibilang dipaksa sedikit, karena ini bagian dari program wajib belajar,” ujarnya.
Ia menegaskan, pemerintah memiliki kewenangan untuk memastikan setiap anak mendapatkan hak pendidikan.
Bahkan, jika orang tua tidak memberikan akses pendidikan, hal itu akan mendapatkan hukuman sesuai dengan ketentuan perlindungan anak.
Abdu Safa mengungkapkan pihaknya akan menawarkan dua jalur pendidikan, yakni kembali ke sekolah formal atau melalui jalur nonformal.
Jika anak tersebut bersedia kembali ke sekolah formal, pihaknya telah menyiapkan opsi untuk menempatkannya di kelas III SD, menyesuaikan dengan kondisi dan kemampuan anak.
“Kami tidak mungkin langsung menempatkan di kelas V seperti teman seangkatannya. Itu justru akan menyulitkan anak. Jadi opsi realistisnya di kelas III,” tandasnya.
