SAMARINDA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda terus memperketat pemantauan penyakit menular sepanjang tahun 2025 melalui sistem surveilans terpadu. Salah satu penyakit yang menjadi perhatian utama adalah pneumonia, mengingat keterkaitannya dengan infeksi saluran pernapasan.
Kepala Dinkes Samarinda, Ismed Kusasih, mengatakan pemantauan dilakukan oleh Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) melalui unit surveilans khusus. Pengumpulan data bersumber dari 26 puskesmas, klinik swasta, serta rumah sakit yang ada di Kota Samarinda.
“Pemantauan penyakit menular, termasuk pneumonia, kami lakukan secara rutin dan berkelanjutan melalui sistem surveilans. Data kami himpun dari seluruh fasilitas pelayanan kesehatan,” ujar Ismed kepada Jurnalborneo.com, Selasa (6/1/2026).
Berdasarkan data tren pneumonia sepanjang 2025, jumlah kasus di Samarinda menunjukkan pola fluktuatif dari pekan ke pekan. Pada awal tahun, jumlah kasus masih berada di kisaran belasan hingga dua puluhan kasus per minggu.
Memasuki pertengahan hingga akhir tahun, pada beberapa pekan tertentu tercatat peningkatan kasus hingga menembus angka di atas 40 kasus per minggu. Bahkan, pada salah satu pekan, jumlah kasus pneumonia sempat mendekati 50 kasus sebelum kembali mengalami penurunan.
Ismed menegaskan, meskipun terjadi lonjakan pada periode tertentu, kondisi tersebut belum memenuhi kriteria Kejadian Luar Biasa (KLB). Ia menyebut, dalam tiga hingga empat tahun terakhir, Kota Samarinda tidak pernah menetapkan status KLB untuk kasus pneumonia.
“Dari grafik memang terlihat adanya kenaikan dan penurunan kasus, namun tidak pernah sampai pada kondisi KLB,” jelasnya.
Ia menambahkan, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, pola sebaran kasus pneumonia pada 2025 relatif sama dengan 2024. Bahkan, puncak kasus justru tercatat lebih tinggi pada tahun 2024.
“Pola sebarannya dari 2024 ke 2025 kurang lebih sama, dan puncak kasusnya justru terjadi pada 2024,” ungkap Ismed.
Menurutnya, dinamika kasus pneumonia tersebut masih dapat dikendalikan melalui deteksi dini dan respons cepat oleh fasilitas pelayanan kesehatan. Selain itu, upaya promotif dan preventif juga terus diperkuat.
“Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) sudah dilaksanakan dengan baik oleh tim kesehatan masyarakat, sementara pemantauan rutin terus dilakukan oleh tim P2P. Kolaborasi lintas sektor juga berjalan dengan baik, sehingga kondisi relatif aman,” tambahnya.
Sebagai langkah pencegahan, ia mengimbau masyarakat untuk terus menerapkan PHBS dan Germas dalam kehidupan sehari-hari guna menekan risiko peningkatan penyakit menular, khususnya infeksi saluran pernapasan.
Foto : Gambaran tren kasus pneumonia di Kota Samarinda selama 2024–2025 yang berfluktuasi dari minggu ke minggu.(Dinkes Samarinda)
