SAMARINDA – Rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan tes HIV masih menjadi persoalan di Kota Samarinda. Kondisi ini dipengaruhi kuatnya stigma terhadap orang dengan HIV (ODHIV) yang belum sepenuhnya hilang.
Tim Pakar Komisi IV DPRD Samarinda, Masdar John, menilai ketakutan akan diskriminasi membuat banyak orang memilih untuk tidak memeriksakan diri, meskipun memiliki risiko tertular.
“Rasa takut dikucilkan itu masih ada. Akhirnya banyak yang menunda atau bahkan tidak mau tes, padahal itu langkah awal untuk penanganan,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).
Ia menjelaskan, HIV merupakan penyakit yang kerap tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Akibatnya, seseorang bisa hidup bertahun-tahun tanpa menyadari dirinya terinfeksi.
Kondisi ini dinilai berbahaya karena membuka peluang penularan yang lebih luas, terutama jika tidak diimbangi dengan kesadaran untuk melakukan pemeriksaan sejak dini.
Menurut Masdar, tes HIV menjadi pintu utama dalam pengendalian penyebaran. Dengan mengetahui status sejak awal, pasien dapat segera mengakses pengobatan dan menekan risiko penularan.
“Semakin cepat diketahui, semakin cepat ditangani. Itu kunci untuk melindungi diri sendiri dan orang lain,” jelasnya.
Ia menekankan, edukasi harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat, tidak hanya kelompok berisiko, tetapi juga masyarakat umum agar memiliki pemahaman yang benar terkait HIV.
Selain itu, peran lingkungan juga dinilai penting dalam mengurangi stigma. Dukungan sosial diperlukan agar ODHIV tidak merasa dikucilkan dan lebih terbuka untuk menjalani pengobatan.
Langkah pencegahan juga perlu diperkuat melalui kampanye perilaku hidup sehat, penggunaan alat pelindung, serta pemanfaatan metode seperti PrEP bagi kelompok berisiko tinggi.
Masdar berharap, meningkatnya kesadaran masyarakat dapat mendorong lebih banyak orang untuk melakukan tes, sehingga penanganan HIV di Samarinda bisa dilakukan lebih cepat dan efektif.
