Samarinda

Ratusan Kasus HIV di Samarinda Didominasi Usia Produktif

Avatar photo
Oleh Jalia
Ukuran Font
Kecil Besar

SAMARINDA – Kasus HIV di Kota Samarinda masih menunjukkan angka yang signifikan. Sepanjang tahun 2024 tercatat sebanyak 527 kasus, dengan mayoritas terjadi pada kelompok usia produktif.

Data tersebut menunjukkan dominasi laki-laki sebesar 409 kasus atau 77,6 persen, sementara perempuan sebanyak 118 kasus. Kelompok usia 25–49 tahun menjadi penyumbang terbesar dengan 308 kasus atau 58,4 persen.

Tren ini pun masih berlanjut pada tahun berikutnya. Pada 2025, jumlah kasus HIV tercatat sebanyak 492 kasus, dengan 354 kasus pada laki-laki dan 138 pada perempuan. Kelompok usia produktif kembali mendominasi dengan 295 kasus.

Sementara itu, pada periode Januari hingga Juni 2025, tercatat 223 kasus HIV, dengan rincian 168 laki-laki dan 55 perempuan. Angka ini menunjukkan bahwa penularan masih aktif terjadi, terutama pada kelompok usia kerja.

Menanggapi kondisi tersebut, Tim Pakar Komisi IV DPRD Samarinda, Masdar John, menilai penanganan HIV/AIDS tidak bisa dilakukan secara parsial dan harus melibatkan banyak pihak.

Menurutnya, pendekatan kolaboratif melalui konsep pentahelix menjadi kunci dalam menekan angka kasus yang masih tinggi.

“Pemerintah punya kekuatan di kebijakan, akademisi di ilmu pengetahuan, swasta di dukungan pendanaan, masyarakat di sumber daya manusia, dan media di pembentukan opini publik,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (16/4/2026).

Ia menilai, tanpa sinergi yang kuat, berbagai program penanganan HIV/AIDS akan sulit berjalan efektif dan berkelanjutan.

Masdar juga menyoroti pentingnya peran media dalam meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus mengurangi stigma terhadap orang dengan HIV (ODHIV). Menurutnya, stigma masih menjadi hambatan besar karena membuat banyak orang enggan melakukan tes.

Selain itu, dunia usaha diharapkan turut berkontribusi dalam mendukung pembiayaan program, sementara komunitas menjadi ujung tombak dalam menjangkau kelompok berisiko.

“Kalau semua bergerak bersama, penanganan HIV/AIDS bisa lebih efektif, tepat sasaran, dan berkelanjutan,” tegasnya.