SAMARINDA – Program vaksinasi rabies di Kota Samarinda tahun 2026 ditargetkan mencapai 2.000 dosis sebelum Juli mendatang. Vaksinasi tersebut diprioritaskan bagi hewan pembawa rabies seperti kucing, anjing, musang, dan monyet, terutama hewan liar maupun rescue yang dikumpulkan komunitas pecinta hewan.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Samarinda, Maskuri mengatakan, vaksinasi dilakukan bekerja sama dengan klinik hewan, pet shop, serta Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI). Pemerintah menyediakan vaksin secara gratis, sementara pelaksanaan turut dibantu jaringan klinik swasta.
“Tahun lalu sebenarnya kami bisa sampai 7.000 dosis. Tahun ini target sementara 2.000 dosis selesai sebelum Juli,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (15/5/2026).
Menurutnya, hingga pertengahan Mei 2026 jumlah vaksinasi baru mencapai sekitar 600 dosis karena sebagian tenaga medis masih difokuskan menangani pemeriksaan kesehatan ternak kurban menjelang Idul Adha.
Meski demikian, kegiatan vaksinasi tetap berjalan di sejumlah titik bersama komunitas cat lover dan dog lover di Samarinda. Salah satunya melalui kegiatan vaksinasi rabies gratis yang digelar di salah satu pet shop di Samarinda pada 16 Mei 2026.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat dapat mendaftarkan hewan peliharaan untuk di vaksin dengan syarat hewan dalam kondisi sehat, berusia minimal tiga bulan, dan tidak sedang hamil.
DKPP bersama mitra pelaksana juga menyediakan layanan jemput bola bagi pemilik yang memiliki lebih dari 10 ekor hewan untuk divaksinasi.
“Kalau shelter (tempat penampungan hewan) mengumpulkan hewan liar, nanti kami yang datang melakukan vaksinasi,” katanya.
Maskuri menjelaskan, vaksin rabies harus dilakukan secara rutin setiap tahun untuk menjaga perlindungan hewan terhadap virus rabies.
Ia menyoroti fenomena meningkatnya hewan peliharaan yang dibuang pemiliknya karena dinilai turut meningkatkan risiko penyebaran penyakit pada hewan maupun manusia.
Banyak hewan peliharaan yang sebelumnya dirawat dengan baik justru dilepas ke lingkungan setelah pemilik merasa bosan memeliharanya.
“Kucing-kucing bagus yang dulu dipelihara sekarang banyak ditemukan terlantar di lingkungan perumahan,” ujarnya.
Menurut Maskuri, perubahan lingkungan secara mendadak membuat kondisi hewan menjadi rentan sakit dan berpotensi menularkan penyakit zoonosis kepada manusia.
Ia menambahkan, tingginya kesadaran masyarakat Samarinda untuk melapor ketika terkena gigitan maupun cakaran hewan menjadi langkah penting dalam pencegahan rabies.
“Kadang masyarakat menganggap cakaran itu biasa, padahal tetap harus diperiksa,” pungkasnya.
