PENAJAM – Tingginya rujukan pasien stroke menjadi salah satu alasan RSUD Ratu Aji Putri Botung (RAPB) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mendorong penguatan fasilitas diagnostik di rumah sakit daerah.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan PPU sekaligus Direktur RSUD RAPB, dr. Lukasiawan Eddy Saputro, mengatakan kasus stroke merupakan salah satu penyumbang terbesar rujukan dari rumah sakit tersebut. Kondisi itu berkaitan dengan kebutuhan penegakan diagnosis menggunakan pemeriksaan CT-Scan.
“Yang jelas, salah satu termasuk tiga besar penyumbang rujukan itu. Malah mungkin yang paling, urutan nomor satu rujukan kita adalah rujukan terkait dengan penanganan stroke,” kata Lukasiawan.
Ia menjelaskan, pemeriksaan CT-Scan menjadi bagian penting dalam penegakan diagnosis stroke, termasuk dalam pelayanan yang berkaitan dengan BPJS Kesehatan. Hasil pemeriksaan tersebut menjadi salah satu dokumen yang dipersyaratkan dalam penanganan pasien stroke.
“Diagnosis stroke dalam hal ini untuk BPJS dipersyaratkan harus melampirkan hasil CT-Scan,” ujarnya.
Sebelum rumah sakit memiliki fasilitas tersebut, kebutuhan pemeriksaan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan pasien harus mendapatkan rujukan. Lukasiawan berharap kondisi itu dapat berubah setelah kemampuan diagnostik rumah sakit semakin diperkuat.
“Makanya dengan adanya alat ini, mudah-mudahan bisa mengurangi, atau justru bisa enggak ada lagi rujukan itu,” katanya.
Meski demikian, RSUD RAPB tidak berhenti pada fasilitas yang tersedia saat ini. Rumah sakit menargetkan pengembangan perangkat tersebut dari 64 slice menjadi 128 slice untuk meningkatkan kemampuan pemeriksaan.
Lukasiawan mengatakan spesifikasi 64 slice sudah sesuai dengan standar rumah sakit tipe C. Namun, perangkat yang diterima RSUD RAPB memiliki kelebihan karena memungkinkan dilakukan peningkatan kapasitas.
“Untuk tipe C memang standarnya adalah 64 slice. Tetapi ini bisa di-upgrade sampai dengan 128 slice,” jelasnya.
Menurutnya, peningkatan kapasitas tersebut akan membutuhkan dukungan anggaran. Karena itu, pemerintah daerah diharapkan dapat mendukung rencana pengembangan fasilitas tersebut agar kemampuan pelayanan diagnostik rumah sakit semakin meningkat.
“Nantinya dengan adanya alat ini kita penginnya akan kita upgrade jadi 128,” ujarnya.
Selain pengembangan perangkat, rumah sakit juga memperhatikan kesiapan tenaga yang bertugas menjaga keberlangsungan fasilitas medis. Pelatihan tidak hanya diberikan kepada tenaga kesehatan, tetapi juga tenaga yang menangani pemeliharaan peralatan, termasuk CT-Scan, hemodialisis, dan Catlab.
“Selain nakesnya, tetapi juga tenaga pemeliharaannya kita latih,” kata Lukasiawan.
Bagi RSUD RAPB, pengembangan fasilitas dan sumber daya manusia tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan rumah sakit dalam menangani pasien secara mandiri. Penurunan angka rujukan, khususnya untuk kasus stroke, menjadi salah satu hasil yang diharapkan dari penguatan tersebut.(Adv)
