BEKASI – Ribuan warga Kecamatan Mustika Jaya, Kota Bekasi, tumpah ruah memadati Stadion H. Natrom Nur Samsu — Mustika Jaya, Kota Bekasi, pada Sabtu malam (18/4/2026). Kehadiran massa ini merupakan bagian dari rangkaian hiburan rakyat sebelum memasuki acara puncak Festival Adu Beduk dan Dondang ke-19 yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu (19/4/2026) siang.
Malam hiburan tersebut berlangsung semarak dengan penampilan Seni Topeng Betawi “Ely Kenjon” dari Group Sumber Jaya. Gelak tawa pengunjung pecah saat menyaksikan banyolan khas Betawi, menciptakan suasana akrab di tengah persiapan pesta budaya tahunan tersebut.
Kepala Kelurahan Mustika Jaya, Ahmad Jazuli, di sela-sela acara mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tidak melewatkan momentum budaya ini. Dengan dialek khas lokal, ia mengundang warga untuk memeriahkan stadion.
“Abang-Empok, Encang-Encing Nyak Babe, saudare-saudare semuanya ayo hadiri festival Adu Beduk dan Dondang yang dipusatkan di Stadion H. Natrom Nur Samsu,” ajak Ahmad Jazuli, Sabtu (18/4/2026).

DONDANG: SIMBOL GOTONG ROYONG WARGA CIKETING
Bagi warga asli seperti Naman (65), festival ini adalah tradisi yang paling dinantikan oleh masyarakat Kampung Ciketing. Ia menjelaskan bahwa “Dondang” atau wadah makanan hantaran raksasa, dibuat secara gotong royong oleh warga.

“Besok puncaknya mengarak Dondang yang dilengkapi kue tradisional seperti wajik, uli, geplak, dan dodol betawi. Warga masyarakat gotong royong membuatnya,” ujar Naman yang juga meraup berkah ekonomi dari larisnya dagangan mie ayam miliknya selama festival berlangsung.
Hal senada diungkapkan oleh Eti, warga setempat. Ia menjelaskan bahwa Dondang itu sebuah wadah yang biasa digunakan oleh warga untuk lamaran pernikahan. Dondang ini simbul kerukunan warga dari berbagai wilayah Ciketing—mulai dari Ciketing Mustika Jaya hingga Ciketing Tanah Merah—tercermin dari pembuatan Dondang per RW.
“Besok kita ramai-ramai mengarak dondang, biasanya habis Dzuhur. Setelah dinilai panitia, warga boleh mengambil kue secara gratis untuk mengambil berkahnya,” jelas Eti.

Festival ini tidak hanya menampilkan adu ketangkasan memukul beduk, tetapi juga memamerkan berbagai ornamen khas, kerajinan tangan, hingga hasil bumi. Kendaraan peserta pun akan dihias dengan tema kreatif yang mencerminkan identitas wilayah masing-masing.

Adhitya, salah satu tokoh penggerak warga, menyebutkan bahwa semangat gotong royong adalah kekuatan utama menjaga tradisi ini agar tidak tergerus modernisasi. “Kita ingin tampil maksimal dan menunjukkan kreativitas warga Mustikasari. Mudah-mudahan semua berjalan lancar,” tandasnya.
Selain menjadi sarana ekspresi identitas, Festival Adu Beduk dan Dondang 2026 ini diharapkan menjadi langkah strategis untuk mengenalkan nilai-nilai tradisional kepada generasi muda, sekaligus memperkuat rasa kebanggaan terhadap budaya asli Bekasi.(mn)
