KETAPANG – Warga Kabupaten Ketapang keluhkan sulitnya memperoleh pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), lantaran antrean panjang yang harus dihadapi untuk mendapatkannya.
Fenomena tersebut juga mempengaruhi harga jual Pertalite di tingkat pengecer yang terpaksa dinaikkan karena tingginya biaya operasional dan waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh pasokan dari SPBU.
Dari pantauan di lapangan, kios pengecer memilih tidak menjual pertalite dan memilih menjual BBM jenis Pertamax dengan harga Rp18.000 per liter.
Menanggapi fenomena tersebut, Bupati Ketapang Alexander Wilyo akan melakukan rapat koordinasi bersama unsur Forkopimda dan akan memanggil pihak Pertamina, Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) serta seluruh pengelola SPBU di Ketapang.
“Banyak saya dapat laporan sulitnya warga mendapatkan BBM jenis pertalite di SPBU dan tingginya harga pada tingkat pengecer. Saya akan rapat dengan Forkopimda dan memanggil pihak Pertamina, Hiswana Migas serta pengelola SPBU,” katanya saat diwawancarai, Senin (13/7/2026).
Menurutnya, persoalan yang terjadi bukan karena pasokan Pertalite tidak tersedia, melainkan antrean kendaraan di SPBU yang mengular sehingga menyulitkan masyarakat memperoleh BBM. Di sisi lain, harga Pertalite yang dijual secara eceran juga dilaporkan melonjak jauh di atas harga normal.
Ia menegaskan, pertemuan tersebut bertujuan untuk mengetahui kondisi riil di lapangan sekaligus mengidentifikasi penyebab terjadinya antrean panjang di sejumlah SPBU.
“Siang ini kita cari tahu apa yang sebenarnya terjadi di lapangan dan apa penyebabnya,” ujarnya.
Bupati menegaskan bahwa apabila ditemukan indikasi adanya praktik penimbunan BBM oleh oknum tertentu, pemerintah daerah bersama aparat penegak hukum akan menindaklanjutinya sesuai ketentuan yang berlaku.
“Jika memang ada indikasi penimbunan, tentu akan kita telusuri. Ada konsekuensi hukum sesuai aturan yang berlaku. Karena itu Pak Kapolres juga akan kita undang dalam rapat ini,” tegasnya.
Pemerintah Kabupaten Ketapang memastikan tidak akan tinggal diam menghadapi persoalan tersebut. Keresahan masyarakat yang kesulitan mendapatkan Pertalite dan menegaskan seluruh pemangku kepentingan akan dilibatkan untuk mencari solusi secepatnya.
“Saya memahami apa yang dirasakan masyarakat. Karena itu kami bersama Forkopimda dan seluruh stakeholder akan mengambil langkah-langkah untuk mencari solusi atas persoalan ini,” pungkasnya.
Sebelumnya, beberapa kios eceran di Kabupaten Ketapang menjual Pertalite Rp12-17 ribu rupiah dan untuk Pertamax dijual dengan harga Rp18 ribu rupiah.(Adv)
