Kubu Raya

Pasca Kecelakaan Bus Damri, Wagub Kalbar Soroti Jalur Ekstrem dan Kelayakan Armada

Avatar photo
Oleh Destriadi Yunas
Ukuran Font
Kecil Besar

KUBU RAYA – Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, angkat bicara terkait kecelakaan bus milik Perum DAMRI yang terjadi di ruas jalan nasional di wilayah Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, pada Minggu (5/4/2026) lalu.

Ia menyoroti kondisi jalan di lokasi kejadian yang dinilai sangat ekstrem dan berisiko tinggi bagi keselamatan pengguna jalan.

Menurutnya, jalur tersebut memiliki tikungan tajam dengan turunan mencapai kemiringan sekitar 45 derajat dan berada tepat di tepi Sungai Kapuas.

“Kalau ada sedikit saja kesalahan, misalnya rem tidak berfungsi, kendaraan bisa langsung masuk ke sungai. Ini sangat membahayakan,” tegasnya, saat diwawancarai di Kantor Bupati Kubu Raya, Jalan Ahmad Yani II, Selasa (7/4/2026).

Ia menilai kondisi jalan tersebut sudah tidak layak dan perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat, mengingat statusnya sebagai jalan nasional. Krisantus juga mengungkapkan bahwa sebenarnya sudah tersedia alternatif jalur yang lebih aman.

“Ada opsi untuk dipindahkan, tidak lagi lewat bantaran Sungai Kapuas. Rintisan jalannya sudah ada. Kita harap nanti dialihkan ke jalur atas sehingga lebih aman,” ujarnya.

Selain faktor jalan yang ekstrem, ia juga menyoroti kondisi permukiman warga yang padat di sekitar lokasi. Jalan yang berada sangat dekat dengan rumah penduduk dinilai meningkatkan potensi kecelakaan, terutama bagi anak-anak.

“Halaman rumah warga itu langsung jadi jalan. Anak-anak bisa saja tiba-tiba lari ke jalan, ini sangat berbahaya,” katanya.

Ia menambahkan, risiko lain di jalur tersebut adalah keberadaan pohon-pohon besar yang kerap membahayakan pengguna jalan.

“Sering juga kendaraan tertimpa pohon. Kalau jalurnya dipindahkan ke atas, saya yakin jauh lebih aman,” tambahnya.

Menanggapi dugaan faktor teknis seperti rem blong dalam kecelakaan tersebut, Krisantus menekankan pentingnya pengawasan terhadap kelayakan kendaraan angkutan umum.
Ia menyoroti keberadaan jembatan timbang yang dinilai belum dimanfaatkan secara optimal.

“Kita punya jembatan timbang di hampir setiap kabupaten, tapi banyak yang tidak difungsikan. Ini perlu segera diaktifkan kembali,” ujarnya.

Menurutnya, pemeriksaan rutin seperti uji emisi dan uji kelayakan kendaraan harus dilakukan secara konsisten.

“Cek rutin itu sangat diperlukan untuk memastikan kendaraan angkutan, baik barang maupun penumpang, benar-benar layak jalan,” tegasnya.

Ia berharap, peristiwa kecelakaan ini menjadi momentum evaluasi bersama, baik dari sisi infrastruktur jalan maupun pengawasan armada, guna meningkatkan keselamatan transportasi di Kalimantan Barat.