Opini

Misi Pertama Seorang Rasul: Menyelamatkan Sebelum Azab Datang

Avatar photo
Oleh Redaksi
Ukuran Font
Kecil Besar

KAJIAN TEMATIK SURAT NUH — Ayat 1

Oleh Masykur Sarmian

بسم الله الرحمن الرحيم

إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ أَنْ أَنذِرْ قَوْمَكَ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan perintah) : ‘Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepada mereka azab yang pedih.’”
—QS. Nuh : 1

Masykur Sarmian

Penjelasan Tematik

Awal Sebuah Misi Kenabian

Surat Nuh dibuka dengan sebuah pernyataan yang sangat tegas dari Allah SWT.

إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh.”

Kalimat ini tampak sederhana, tetapi mengandung makna yang sangat besar. Allah ingin menegaskan bahwa Nabi Nuh tidak datang membawa gagasan pribadinya. Ia bukan seorang filsuf yang sedang menawarkan pemikiran baru. Ia bukan pula seorang pemimpin yang sedang mencari pengikut.

Nabi Nuh datang sebagai utusan Allah.

Ada perbedaan besar antara orang yang berbicara atas nama dirinya dengan orang yang berbicara atas nama wahyu. Orang yang berbicara atas nama dirinya mungkin bisa salah, mungkin bisa berubah, bahkan mungkin bisa dipengaruhi kepentingan.

Tetapi seorang rasul membawa pesan yang berasal dari langit.

Karena itu sejak ayat pertama ini Allah ingin membangun kesadaran bahwa dakwah para nabi bukan proyek pribadi, melainkan amanah Ilahi.

Allah Selalu Mendahulukan Kasih Sayang-Nya

Menariknya, sebelum berbicara tentang azab, Allah terlebih dahulu mengutus seorang nabi.

Ini menunjukkan satu prinsip yang berulang kali muncul dalam Al-Qur’an :

√ Allah selalu mendahulukan rahmat sebelum hukuman.

√ Allah selalu mendahulukan peringatan sebelum azab.

√ Allah selalu membuka jalan kembali sebelum pintu itu ditutup.

Jika Allah menghendaki, tentu Dia mampu langsung menghukum manusia yang membangkang. Namun Allah tidak melakukannya.

~ Dia mengutus para nabi.
~ Dia menurunkan kitab.
~ Dia mengirimkan nasihat.
~ Dia memberikan kesempatan demi kesempatan.

Karena sesungguhnya keberadaan para nabi adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah yang paling besar kepada manusia.

Hakikat Peringatan

Kemudian Allah berfirman :

أَنْ أَنذِرْ قَوْمَكَ

“Berilah kaummu peringatan.”

Inilah tugas pertama Nabi Nuh.

√ Bukan menghukum.
√ Bukan memaksa.
√ Bukan membinasakan.

Tetapi mengingatkan.

Dalam bahasa Arab, kata indzaar mengandung makna memperingatkan seseorang tentang bahaya yang akan datang sebelum bahaya itu benar-benar tiba.

Seperti seorang ayah yang memperingatkan anaknya agar tidak bermain di tepi jurang.

Seperti dokter yang memperingatkan pasien tentang penyakit yang sedang berkembang.

Seperti penjaga pantai yang berteriak ketika gelombang besar mulai mendekat.

Peringatan bukanlah bentuk kebencian.

Justru sebaliknya.

Peringatan adalah bentuk kepedulian.

Seseorang tidak akan repot memperingatkan jika ia tidak peduli.

Ketika Manusia Mulai Kebal terhadap Kesalahan

Namun mengapa manusia perlu terus diingatkan ?

Karena manusia memiliki kemampuan yang aneh.

Ia bisa terbiasa dengan apa yang salah.

Dosa yang dahulu membuat hati gelisah bisa menjadi biasa jika terus diulang.

Kebiasaan buruk yang awalnya terasa mengganggu perlahan berubah menjadi sesuatu yang dianggap normal.

Dalam psikologi modern terdapat istilah moral desensitization, yaitu keadaan ketika seseorang kehilangan sensitivitas terhadap kesalahan karena terlalu sering terpapar olehnya.

Akibatnya hati menjadi tumpul.

Nurani menjadi lemah.

Dan kesalahan tidak lagi terasa sebagai kesalahan.

Di sinilah pentingnya para nabi.

Mereka hadir untuk membangunkan hati yang mulai tertidur.

Mereka hadir untuk menghidupkan kembali kesadaran yang mulai mati.

Sebelum Terlambat

Allah kemudian berfirman :

مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sebelum datang kepada mereka azab yang pedih.”

Perhatikan baik-baik.

Allah tidak mengatakan setelah azab datang.

Tetapi sebelum azab datang.

Inilah inti dakwah para nabi.

Menyelamatkan sebelum terlambat.

Karena ketika azab sudah tiba, kesempatan telah berakhir.

Ketika pintu ditutup, penyesalan tidak lagi mengubah keadaan.

Karena itu dakwah selalu bekerja di wilayah “sebelum”.

~ Sebelum hati mengeras.
~ Sebelum dosa menjadi kebiasaan.
~ Sebelum kehidupan habis.
~ Sebelum kematian datang.

Psikologi Penundaan Kesadaran

Salah satu kelemahan terbesar manusia adalah selalu merasa masih ada waktu.

√ Merasa masih muda.
√ Merasa masih sehat.
√ Merasa masih kuat.
√ Masih panjang umur.

Padahal tidak seorang pun memiliki jaminan tentang esok hari.

Dalam psikologi modern dikenal istilah delay of consequence bias, yaitu kecenderungan manusia meremehkan bahaya karena akibatnya belum terlihat saat ini.

Karena belum sakit, ia mengabaikan kesehatan.

Karena belum bangkrut, ia mengabaikan peringatan.

Karena belum mendapat akibat dosa, ia merasa aman.

Padahal banyak kehancuran datang secara perlahan dan tidak terasa.

Sampai akhirnya manusia tersadar ketika semuanya sudah terlambat.

Pelajaran Kehidupan

Ayat pertama Surat Nuh mengajarkan bahwa salah satu bentuk rahmat Allah yang terbesar adalah peringatan.

Kadang peringatan itu datang melalui Al-Qur’an.

Kadang melalui nasihat orang tua.

Kadang melalui sahabat yang tulus.

Kadang melalui kegagalan.

Kadang melalui kehilangan.

Kadang melalui ujian yang mengguncang kehidupan.

Orang yang bijak bukanlah orang yang tidak pernah salah.

Tetapi orang yang mau berhenti ketika diperingatkan.

Karena sesungguhnya Allah sering berbicara kepada manusia melalui berbagai peristiwa yang terjadi dalam hidupnya.

Saudara…

Ayat pertama Surat Nuh mengingatkan kita bahwa Allah tidak pernah tergesa-gesa menghukum hamba-Nya.

Dia lebih dahulu mengutus nabi.

Lebih dahulu memberi nasihat.

Lebih dahulu membuka pintu taubat.

Lebih dahulu mengirim tanda-tanda.

Maka selama hati masih bisa tersentuh oleh nasihat, bersyukurlah.

Selama masih ada rasa ingin berubah, bersyukurlah.

Selama masih ada kegelisahan ketika berbuat salah, bersyukurlah.

Karena itu semua adalah tanda bahwa Allah masih memanggil kita untuk kembali.

Dan sesungguhnya orang yang paling beruntung bukanlah orang yang sadar setelah jatuh.

Tetapi orang yang mau mendengar peringatan sebelum terjatuh.

Wallahu A‘lam.
Samarinda, 22 J u n i 2026

Topik