JAKARTA – Suasana Masjid Istiqlal, Jakarta, pada Kamis malam (16/7/2026) terasa begitu syahdu. Selepas adzan isya berkumandang sebelum menunaikan salat Isya berjemaah, jemaah yang memenuhi ruang utama masjid tampak khusyuk menyimak tausiyah yang disampaikan oleh Menteri Agama Republik Indonesia, KH Nasaruddin Umar.
Dalam pengajian tersebut, beliau mengajak hadirin untuk melampaui pemahaman tekstual dalam mengagungkan asma Allah, melalui konsep Tasbih dan Taqdis.
Dengan tutur kata yang tenang, KH Nasaruddin mengutip pemikiran Al Kasyani untuk mendudukkan perbedaan mendasar antara kedua istilah tersebut. Menurutnya, pemahaman ini penting agar manusia tidak terjebak pada persepsi yang membatasi keagungan Tuhan.
“Al Kasyani menjelaskan apa itu Tasbih, dan apa itu Taqdis. Tasbih itu menyucikan Allah dari kekurangan umum, seperti memiliki sekutu atau kelemahan. Sedangkan Taqdis adalah tingkat kesucian yang lebih dalam, yakni menyucikan Allah dari batasan tempat, waktu, reaksi, dan potensi,” jelas KH Nasaruddin di hadapan ratusan jemaah.
Dalam narasi bertuturnya, KH Nasaruddin menyadari bahwa keterbatasan akal budi manusia seringkali menjadi penghalang untuk memahami sifat-sifat Tuhan yang tak terbatas. Ia memberikan perumpamaan tentang sifat Maha Penyayang Allah, yang sering kali diterjemahkan oleh manusia melalui kacamata pengalaman hidupnya sendiri.
“Penyebutan bahwa Allah Maha Penyayang itu sebenarnya hanyalah ukuran manusia. Ibarat kasih sayang diumpamakan dengan segelas air, padahal sejatinya, kasih sayang Allah itu jauh lebih luas daripada samudera,” paparnya, menggambarkan betapa tipisnya pemahaman manusia jika dibandingkan dengan hakikat kasih sayang Ilahi.
Membawa Kesadaran ke Dalam Diri
Penyampaian yang mengalir ini seolah membawa jemaah untuk melakukan refleksi diri. KH Nasaruddin menekankan bahwa konsep Taqdis bukan sekadar teori intelektual, melainkan sebuah bentuk penghayatan spiritual untuk menyadari kebesaran Tuhan yang tidak tersentuh oleh ruang dan waktu.
Melalui tausiyah ini, KH Nasaruddin Umar tidak hanya sekadar memberikan ceramah, tetapi mengajak umat untuk memperluas cakrawala spiritual. Di tengah kesibukan kota Jakarta, pengajian malam itu menjadi pengingat bagi jemaah untuk selalu menempatkan Tuhan di atas segala keterbatasan pemikiran manusia, serta menyadari bahwa keagungan Allah tidak pernah dapat dijangkau sepenuhnya oleh imajinasi makhluk-Nya.(mn)
