Kalimantan Timur

Menuai Sehat di Tanah Sendiri, Cara Kader Posyandu Desa Baay Melawan Stunting dari Pekarangan

Avatar photo
Oleh Redaksi
Ukuran Font
Kecil Besar

KUTAI TIMUR – Saat sinar matahari pagi mulai membasuh halaman rumah di Desa Baay, Kecamatan Karangan, Kabupaten Kutai Timur, keheningan desa pecah oleh tawa renyah sekelompok perempuan. Tangan-tangan mereka yang terampil tidak sedang memegang gawai, melainkan bergelut dengan tanah, menyemai benih kangkung, hingga memetik tomat yang mulai merona.

Pekarangan yang dulunya sekadar ruang sisa yang gersang, kini telah bersalin rupa menjadi hamparan hijau yang produktif. Di sana, bayam, cabai, dan daun kelor tumbuh subur, membawa pesan yang lebih dalam dari sekadar tanaman: sebuah kemandirian pangan.

Di tengah kesibukan itu, sosok perempuan berusia 35 tahun tampak telaten memberikan arahan. Ia adalah Sunarti, Ketua Kader Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) Desa Baay. Baginya dan rekan-rekan kader lainnya, berkebun bukan sekadar hobi, melainkan garis depan dalam melawan stunting dan masalah kesehatan di desa mereka.

Lebih dari Sekadar Sayuran
Mungkin banyak yang bertanya, mengapa kader posyandu justru sibuk di kebun ketimbang di meja pendaftaran pasien? Sunarti, ibu dari tiga anak kelahiran Batu Lepoq ini, punya jawaban yang berakar kuat pada kepedulian.

“Kegiatan berkebun ini bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan keluarga. Kami ingin memastikan ibu bayi dan balita mendapatkan akses pangan segar yang bergizi dan berkelanjutan,” ujar Sunarti dengan binar mata penuh semangat, saat ditemui di depan rumahnya, Selasa (17/1/2026).

Bagi para kader ini, setiap helai daun kangkung dan setiap butir tomat adalah simbol perlawanan terhadap ketergantungan pangan luar yang harganya sering tak menentu. Sayuran dari pekarangan ini menjadi bahan utama Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di posyandu. Dari tangan mereka, hasil kebun itu diolah menjadi sup bening yang kaya mineral hingga camilan sehat untuk ibu hamil dan balita.

Sunarti menyadari bahwa tantangan terbesar bukanlah lahan yang sempit, melainkan kesadaran masyarakat. Banyak ibu yang belum memahami pentingnya gizi seimbang. Oleh karena itu, pekarangan rumah ini ia sulap menjadi “laboratorium hidup”.

“Tidak semua ibu memiliki kesadaran untuk memberikan makanan bergizi. Melalui praktik nyata menanam hingga memanen ini, kami mengedukasi mereka tentang pola makan sehat secara alami,” tutur perempuan penyuka olahraga voli ini.

Anak-anak di Desa Baay kini tumbuh dengan melihat langsung darimana makanan mereka berasal. Mereka belajar bahwa sehat tidak harus mahal; sehat bisa dimulai dari sejengkal tanah di depan rumah.

Sinergi dan Harapan
Langkah kecil Sunarti dan kawan-kawan tidak berjalan sendirian. Dukungan mengalir melalui program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) dari PT Indexim Coalindo. Pendampingan dan edukasi budidaya hortikultura yang diberikan perusahaan tersebut menjadi pupuk bagi semangat para kader untuk terus menyediakan bahan pangan berkualitas.

Bagi masyarakat Desa Baay, Sunarti bukan sekadar kader posyandu. Ia adalah perawat harapan. Di tangannya, pekarangan rumah bukan lagi tanah yang diam, melainkan fondasi bagi masyarakat yang lebih tangguh dan generasi yang lebih sehat.

Melalui rimbunnya daun kelor dan segarnya bayam di Desa Baay, Sunarti membuktikan bahwa kesehatan sebuah bangsa memang benar-benar dimulai dari meja makan keluarga.(*/mn)