SAMARINDA – Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) memastikan satwa yang terekam berenang di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, merupakan lumba-lumba hidung botol Indo-Pasifik (Indo-Pacific Bottlenose Dolphin), spesies yang umumnya hidup di wilayah laut dan pesisir. Masyarakat pun diminta berperan aktif memantau keberadaan satwa tersebut dengan melaporkan jika kembali terlihat.
Pimpinan Program Ilmiah RASI, Danielle Kreb, mengatakan pihaknya telah mengonfirmasi video yang beredar di media sosial kepada pengunggahnya. Berdasarkan informasi yang diterima, lumba-lumba tersebut kembali terlihat di sekitar Jembatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara, dan diduga masih bergerak ke arah hulu Sungai Mahakam.
“Orang yang mengunggah video itu sudah kami konfirmasi. Kapal yang sama bertemu lagi dengan lumba-lumba itu di sekitar Jembatan Kota Bangun dan kelihatannya memang masih mengarah ke hulu,” kata Danielle, Rabu (15/7/2026).

Untuk memantau kondisi satwa tersebut, RASI telah mengerahkan tim di sejumlah titik sepanjang Sungai Mahakam. Pemantauan dilakukan guna memastikan kondisi lumba-lumba tetap baik serta mengantisipasi jika satwa mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan.
Menurut Danielle, pihaknya berharap lumba-lumba tersebut berbalik arah menuju muara. Namun apabila terus bergerak ke hulu dan kondisinya memburuk, RASI akan mempertimbangkan langkah penyelamatan.
“Kami berharap sebenarnya dia memutuskan untuk berbalik arah. Kalau ternyata dia terus bergerak ke hulu dan kondisinya mulai tidak baik, mungkin akan kami coba bantu mengarahkan supaya kembali ke arah muara,” ujarnya.
Ia menjelaskan, fenomena lumba-lumba laut memasuki sungai memang jarang terjadi, tetapi bukan hal yang belum pernah ditemukan. Satwa tersebut diduga masuk ke sungai karena mengikuti pergerakan ikan sebagai sumber pakan atau dipengaruhi faktor lingkungan lainnya.
“Memang dia berasal dari laut. Kadang-kadang lumba-lumba laut bisa masuk ke sungai, misalnya mengikuti ikan atau ada faktor lain. Jadi memang jarang, tapi bukan berarti tidak pernah terjadi,” jelas Danielle.
Hingga kini, penyebab pasti lumba-lumba tersebut masuk jauh ke Sungai Mahakam belum diketahui. Ada sejumlah kemungkinan, mulai dari mencari habitat yang lebih aman hingga terpisah dari kelompoknya.
“Bisa saja dia mengikuti ikan, mencari tempat yang lebih aman, atau memang terpisah dari kelompoknya. Latar belakangnya kita belum tahu pasti,” tuturnya.
Berdasarkan rekaman video yang diterima, Danielle memperkirakan lumba-lumba tersebut merupakan individu dewasa berjenis kelamin jantan. Kondisinya juga dinilai masih cukup baik karena masih mampu berenang aktif menuju wilayah hulu.
“Kalau dilihat ini lumba-lumba jantan, dan bisa saja individu ini terpisah dari kelompoknya karena kalah bersaing dengan pejantan dewasa lain. Namun itu masih sebatas kemungkinan, karena penyebab pastinya tidak bisa dipastikan. Dan kalau saya lihat dari videonya, dia masih bergerak cukup baik. Berarti untuk saat ini kondisinya kemungkinan masih sehat,” katanya.
Danielle juga mengingatkan masyarakat agar tidak keliru membedakan lumba-lumba laut dengan pesut Mahakam yang merupakan satwa endemik sungai tersebut. Menurutnya, lumba-lumba hidung botol memiliki moncong yang panjang dan sirip punggung yang lebih tinggi, sedangkan pesut Mahakam memiliki kepala membulat tanpa moncong.
“Kalau pesut kepalanya lebih bulat dan tidak memiliki moncong panjang. Siripnya juga berbeda, termasuk cara muncul ke permukaan sudah punya ciri khas sendiri,” ungkapnya.
Saat ini RASI masih mengutamakan pemantauan tanpa melakukan intervensi langsung agar tidak memicu stres pada satwa liar tersebut. Langkah penyelamatan baru akan dilakukan apabila kondisi lumba-lumba dinilai memburuk.
“Kami minta tolong kepada masyarakat, kalau melihat lumba-lumba ini lagi silakan direkam, diunggah, lalu tandai RASI supaya kami bisa mengetahui keberadaannya dan menentukan langkah yang perlu dilakukan,” pungkas Danielle.
