Opini

Konspirasi Kesombongan: Ketika Para Pembesar Menggunakan Pengaruh untuk Menghalangi Kebenaran

Avatar photo
Oleh Redaksi
Ukuran Font
Kecil Besar

KAJIAN TEMATIK SURAT NUH—Ayat 22

Oleh Masykur Sarmian

بسم الله الرحمن الرحيم

وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا

“Dan mereka melakukan tipu daya yang sangat besar.”
—QS. Nuh Ayat 22

Masykur Sarmian

Penjelasan Tematik

Ayat ini merupakan lanjutan dari keluhan Nabi Nuh kepada Allah tentang kondisi kaumnya yang bukan hanya menolak dakwah, tetapi juga membangun berbagai cara untuk menghalangi manusia menerima kebenaran.

Jika pada ayat sebelumnya Allah menggambarkan bahwa mereka mengikuti orang-orang yang tertipu oleh harta dan keturunan, maka pada ayat ini Allah menunjukkan tahapan berikutnya : ketika kesombongan sudah menguasai hati, manusia tidak hanya menolak kebenaran untuk dirinya sendiri, tetapi berusaha membuat orang lain ikut menolaknya.

Allah berfirman :

وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا

“Dan mereka melakukan tipu daya yang sangat besar.”

Kata مَكْر (makr) dalam bahasa Arab mengandung makna merancang suatu strategi tersembunyi untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam konteks ayat ini, yang dimaksud adalah usaha sistematis para penentang Nabi Nuh untuk mempertahankan kekuasaan, pengaruh, dan keyakinan yang keliru.

Sedangkan kata كُبَّارًا (kubbaaraa) menunjukkan sesuatu yang sangat besar, luar biasa, dan melampaui batas.

Artinya, penolakan mereka bukan lagi sekadar ketidaksepakatan pribadi, tetapi sudah menjadi gerakan yang terencana.

Ketika Kebenaran Mengancam Kenyamanan

Sejarah manusia sering menunjukkan pola yang sama.

Ketika sebuah kebenaran datang dan mulai mengguncang sistem yang tidak adil, orang-orang yang merasa kepentingannya terganggu sering kali tidak langsung menerima atau berdialog. Mereka justru berusaha mempertahankan keadaan lama.

Mengapa?

Karena kebenaran bukan hanya menyentuh pikiran, tetapi juga menyentuh kepentingan.

Nabi Nuh tidak menawarkan kerugian kepada mereka. Beliau hanya mengajak mereka menyembah Allah dan meninggalkan kesesatan. Namun ajakan itu dianggap ancaman karena menyentuh akar kesombongan mereka.

Mereka tidak hanya mempertahankan keyakinan lama, tetapi juga mempertahankan struktur sosial yang membuat mereka merasa lebih tinggi dari orang lain.

Strategi Menghalangi Cahaya

Dari ayat ini kita belajar bahwa kebatilan sering kali tidak hadir dalam bentuk yang sederhana.

Kadang ia menggunakan berbagai cara :

√ Mengaburkan kebenaran.
√ Membuat manusia ragu.
√ Mengubah persepsi masyarakat.
√ Membentuk opini yang keliru.
√ Membuat orang takut terhadap perubahan.

Inilah yang membuat perjuangan para nabi selalu berat. Mereka bukan hanya menghadapi orang yang tidak tahu, tetapi juga menghadapi orang-orang yang sengaja mempertahankan ketidaktahuan karena ada kepentingan di baliknya.

Dalam psikologi sosial modern, hal ini berkaitan dengan konsep motivated reasoning, yaitu kecenderungan manusia mencari alasan untuk mempertahankan sesuatu yang sudah ia yakini atau sesuatu yang sesuai dengan kepentingannya, meskipun berhadapan dengan fakta yang berbeda.

Sering kali manusia bukan tidak mampu melihat kebenaran, tetapi tidak mau menerima konsekuensinya.

Bahaya Kecerdasan Tanpa Ketundukan

Ayat ini juga menunjukkan bahwa manusia bisa memiliki kecerdasan, strategi, dan kemampuan mengatur masyarakat, tetapi semuanya dapat menjadi bahaya ketika tidak dibimbing oleh nilai kebenaran.

Kecerdasan tanpa ketakwaan dapat melahirkan manipulasi.

Kekuatan tanpa akhlak dapat melahirkan penindasan.

Pengaruh tanpa tanggung jawab dapat menjadi alat untuk menyesatkan.

Allah tidak mencela manusia karena memiliki kemampuan berpikir dan merencanakan. Justru kemampuan itu adalah anugerah Allah.

Yang menjadi masalah adalah ketika kemampuan tersebut digunakan untuk melawan kebenaran.

Kesombongan Kolektif Lebih Berbahaya daripada Kesalahan Pribadi

Seseorang yang salah masih mungkin kembali ketika ia menyadari kesalahannya.

Namun sebuah kelompok yang membangun sistem untuk mempertahankan kesalahan akan jauh lebih sulit menerima kebenaran.

Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya pendapat, tetapi harga diri, status, dan kepentingan bersama.

Inilah salah satu alasan mengapa dakwah Nabi Nuh berlangsung begitu panjang. Persoalannya bukan hanya pada ketidaktahuan manusia, tetapi pada adanya tembok psikologis dan sosial yang sengaja dibangun untuk menolak petunjuk.

Pelajaran Kehidupan

Ayat ini mengajarkan manusia agar selalu menjaga hati dari kesombongan intelektual dan sosial.

Jangan sampai ketika kebenaran datang, kita menolaknya hanya karena berasal dari orang yang tidak kita sukai.

Jangan sampai kita mempertahankan pendapat dengan hanya karena takut kehilangan gengsi.

Dan jangan sampai kemampuan, jabatan, atau pengaruh yang Allah berikan justru digunakan untuk menghalangi kebaikan.

Sebab sejarah menunjukkan bahwa banyak orang tidak hancur karena tidak memiliki kemampuan.

Mereka hancur karena kemampuan yang mereka miliki digunakan melawan kebenaran.

Saudara…

Ayat ini seperti cermin yang memperingatkan manusia.

Kadang musuh terbesar kebenaran bukanlah kebodohan.

Tetapi kesombongan.

Sebab orang yang tidak tahu masih bisa diajari.

Tetapi orang yang merasa sudah paling benar akan sulit menerima cahaya.

Maka sebelum melihat kesalahan orang lain, periksalah hati sendiri.

Apakah ketika mendengar nasihat kita membuka diri?

Apakah ketika menemukan kebenaran kita siap memperbaiki diri?

Ataukah kita membangun berbagai alasan untuk membenarkan diri ?

Karena jebakan terbesar manusia bukan hanya gagal menemukan kebenaran.

Tetapi ketika kebenaran sudah datang, lalu hati terlalu angkuh untuk menerimanya.

Wallahu A’lam.
Samarinda, 13 Juli 2026

Topik