KAJIAN TEMATIK SURAT NUH—Ayat 23
Oleh Masykur Sarmian
بسم الله الرحمن الرحيم
وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا
“Dan mereka berkata, ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan tuhan-tuhanmu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.'”
—QS. Nuh Ayat 23

Penjelasan Tematik
Setelah Allah menjelaskan bahwa para penentang Nabi Nuh melakukan tipu daya besar untuk mempertahankan kesesatan mereka, ayat ini memperlihatkan salah satu bentuk strategi tersebut : mempertahankan simbol-simbol lama yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat.
Mereka berkata :
لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ
“Jangan sekali-kali kamu meninggalkan tuhan-tuhanmu.”
Perhatikan ungkapan mereka. Mereka tidak mengatakan, “Jangan tinggalkan kebenaran.”
Mereka mengatakan, “Jangan tinggalkan apa yang selama ini menjadi milik kalian.”
Atau :
“Jangan merubah pakem yang selama ini berlaku di tempat ini”
Di sinilah letak masalahnya.
Sering kali manusia mempertahankan sesuatu bukan karena sesuatu itu benar, tetapi karena sesuatu itu sudah lama dikenal, diwariskan, dan menjadi bagian dari kebiasaan.
Ketika Tradisi Menjadi Penghalang Kebenaran
Manusia memiliki kecenderungan psikologis untuk merasa nyaman dengan sesuatu yang sudah familiar.
Apa yang sudah lama dianggap benar sering kali sulit dipertanyakan, meskipun ternyata bertentangan dengan nilai yang lebih tinggi.
Dalam psikologi modern, hal ini berkaitan dengan konsep :
status quo bias,
yaitu kecenderungan manusia mempertahankan keadaan yang sudah ada karena perubahan dianggap mengancam rasa aman.
Kaum Nabi Nuh bukan tidak memiliki bukti tentang kebesaran Allah. Mereka melihat langit, bumi, kehidupan, dan tanda-tanda penciptaan. Namun mereka terikat oleh sistem keyakinan yang telah diwariskan turun-temurun.
Mereka takut kehilangan sesuatu yang selama ini menjadi bagian dari identitas mereka.
Lima Nama yang Menjadi Simbol Penyimpangan
Allah menyebut beberapa nama sesembahan mereka :
وَدًّا، وَسُوَاعًا، وَيَغُوثَ، وَيَعُوقَ، وَنَسْرًا
“Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.”
Menurut penjelasan para ulama tafsir, nama-nama tersebut awalnya berkaitan dengan orang-orang saleh yang dihormati oleh masyarakat sebelum Nabi Nuh.
Setelah generasi berganti, penghormatan itu perlahan berubah menjadi pengagungan yang melampaui batas, hingga akhirnya manusia menjadikan simbol tersebut sebagai sesuatu yang disembah.
Di sinilah manusia perlu berhati-hati.
Sesuatu yang awalnya mungkin lahir dari penghormatan dapat berubah menjadi penyimpangan ketika hati manusia kehilangan batas antara menghormati dan mempertuhankan.
Bahaya Mengagungkan Makhluk Secara Berlebihan
Islam tidak mengajarkan manusia untuk tidak menghargai sejarah, tokoh, atau tradisi. Justru Islam mengajarkan penghormatan kepada kebaikan dan jasa manusia.
Namun penghormatan memiliki batas, karena manusia tetaplah manusia, iya tempat salah dan lupa.Tokoh pun juga tetap manusia.
Tradisi tetap tradisi.
Tidak ada yang boleh mengambil posisi yang hanya milik Allah.
Ketika manusia mulai menggantungkan harapan mutlak kepada selain Allah, saat itulah terjadi pergeseran dalam orientasi jiwa.
Dalam psikologi agama, hal ini berkaitan dengan konsep :
ultimate attachment, yaitu tempat seseorang menggantungkan makna, harapan, dan rasa aman terdalam. Al-Qur’an mengajarkan bahwa keterikatan tertinggi manusia harus tetap diarahkan kepada Allah.
Perang Melawan Kesadaran Manusia
Menariknya, para pemimpin kaum Nabi Nuh tidak hanya menyembah berhala, tetapi juga menyerukan agar orang lain tetap mempertahankannya.
Mereka memahami bahwa jika masyarakat mulai berpikir kritis, maka sistem lama mereka akan runtuh.
Karena itu mereka menggunakan kalimat yang menyentuh emosi :
“Jangan tinggalkan tuhan-tuhan kalian.”
Ini bukan sekadar ajakan agama, tetapi juga ajakan mempertahankan identitas kelompok.
Sebab manusia sering kali lebih takut kehilangan identitas kelompok daripada kehilangan kebenaran.
Pelajaran Kehidupan
Ayat ini mengajarkan bahwa seorang manusia harus memiliki keberanian untuk mengevaluasi keyakinan, kebiasaan, dan pola pikir yang diwarisinya.
Tidak semua yang lama pasti salah, sebagaimana tidak semua yang baru pasti benar. Karena segala sesuatu harus diuji dengan kebenaran.
Seorang yang dewasa secara spiritual bukanlah orang yang menolak masa lalu, tetapi orang yang mampu mengambil hikmah dari masa lalu tanpa terpenjara olehnya.
Tradisi harus menjadi jembatan menuju kebaikan, bukan tembok yang menghalangi manusia dari cahaya Allah.
Saudara…
Ayat ini mengingatkan bahwa berhala tidak selalu berbentuk patung.
Kadang berhala hadir dalam bentuk yang lebih halus:
Sesuatu yang terlalu kita cintai hingga melupakan Allah.
Sesuatu yang terlalu kita takutkan hingga membuat kita meninggalkan kebenaran.
Sesuatu yang terlalu kita agungkan hingga mengambil tempat yang seharusnya hanya milik Allah.
Maka pertanyaan penting bagi setiap manusia adalah :
Apa yang paling kita sandarkan dalam hidup ini ?
Kepada siapa hati kita menggantungkan harapan terbesar?
Sebab tauhid bukan hanya tentang meninggalkan patung-patung.
Tauhid adalah membebaskan hati dari segala sesuatu yang menghalangi manusia untuk tunduk sepenuhnya kepada Allah.
Dan sering kali perjuangan terbesar manusia bukan melawan sesuatu yang berada di luar dirinya, tetapi meluruskan apa yang diam-diam telah menguasai hatinya.
Wallahu A’lam.
Samarinda, 14 Juli 2026
