Opini

Kembali ke Rumah Besar Bridge Indonesia: Membangun Sistem, Memperkuat Prestasi, Menyatukan Bridge Indonesia

Avatar photo
Oleh Bert Toar Polii
Ukuran Font
Kecil Besar

Oleh: Bert Toar Polii – Tukang Bridge

Mamuju, September 2026.

Ada sebuah cerita yang menurut saya jauh lebih penting daripada sekadar berita tentang siapa yang terpilih menjadi Ketua Umum PB GABSI.

Cerita itu adalah tentang seorang anak yang sejak kecil mengenal bridge dari keluarganya, kemudian tumbuh menjadi seorang perwira tinggi Polri, dan akhirnya kembali ke dunia bridge untuk menerima amanah memimpin rumah besar olahraga yang sudah dikenalnya sejak masa kanak-kanak.

Dialah Komjen Pol. (Purn.) Drs. Verdianto Iskandar Bitticaca, M.Hum.

Dalam Kongres GABSI di Mamuju, Verdianto akhirnya terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PB GABSI periode 2026–2030.

Ia juga dipercaya sebagai formatur tunggal untuk menyusun kepengurusan baru.

Namun bagi saya, perjalanan Verdianto bersama bridge sebenarnya dimulai jauh sebelum Kongres di Mamuju.

Jauh sebelum ia menjadi seorang jenderal.

Jauh sebelum menduduki berbagai jabatan penting di Kepolisian.

Perjalanannya dimulai dari sebuah meja bridge di lingkungan keluarganya.

BRIDGE SUDAH DIKENAL SEJAK KECIL

Verdianto berasal dari keluarga yang mencintai bridge.

Sejak kecil ia sudah diperkenalkan kepada permainan ini oleh kakeknya.

Bridge bukan sesuatu yang baru masuk dalam kehidupannya ketika ia menjadi pejabat atau ketika kemudian dipercaya menjadi Ketua Umum GABSI.

Bridge sudah menjadi bagian dari keluarganya.

Kecintaan itu juga diteruskan oleh anggota keluarganya.

Novan Siregar, yang memberikan apresiasi terhadap terpilihnya Verdianto, menyebut bahwa kecintaan terhadap bridge memang sudah sangat kuat di dalam keluarga Verdianto. Orang tua, abang dan adiknya juga merupakan pecinta bridge.

Karena itu, kalau hari ini Verdianto kembali ke dunia bridge, sesungguhnya ia bukan sedang memasuki dunia baru.

Ia sedang kembali ke rumahnya sendiri.

DARI PEMAIN SUMATERA UTARA

Salah satu bagian menarik dari perjalanan bridge Verdianto adalah keterlibatannya sebagai pemain di tingkat nasional.

Pada Kejurnas Bridge tahun 2012 di Jakarta, Verdianto mewakili Provinsi Sumatera Utara.

Ini merupakan bagian penting dari sejarah bridge-nya.

Ia bukan hanya seseorang yang pernah bermain bridge di lingkungan keluarga.

Ia pernah merasakan sendiri bagaimana rasanya duduk di meja pertandingan dengan membawa nama sebuah provinsi.

Membawa nama Sumatera Utara.

Di meja pertandingan itulah seorang pemain belajar bahwa bridge bukan sekadar memegang kartu.

Ada tanggung jawab.

Ada konsentrasi.

Ada komunikasi dengan partner.

Ada disiplin.

Ada kemampuan mengendalikan emosi.

Dan ada kebanggaan ketika bermain membawa nama daerah.

Semua pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan Verdianto.

DARI SUMATERA UTARA KEMBALI KE MEJA BRIDGE

Menariknya, perjalanan tersebut seperti sebuah lingkaran yang kembali bertemu di Mamuju.

Pada tahun 2012 ia pernah mewakili Sumatera Utara dalam Kejurnas Bridge di Jakarta.

Dan pada Kejurnas Bridge ke-60 tahun 2026 di Mamuju, Verdianto kembali turun bermain dan memperkuat tim Provinsi Sulawesi Barat. Hal tersebut juga diberitakan setelah Kongres.

Bayangkan perjalanan itu.

2012 – Jakarta – membawa nama Sumatera Utara.

2026 – Mamuju – membawa nama Sulawesi Barat.

Dan di tempat yang sama pada 2026, ia kemudian menerima amanah yang jauh lebih besar:

Memimpin bridge Indonesia.

Dulu ia duduk di meja pertandingan membawa nama sebuah provinsi.

Kini ia berada di meja kepemimpinan membawa amanah seluruh Indonesia.

DARI BRIMOB HINGGA PIMPINAN STRATEGIS POLRI

Di luar bridge, Verdianto mempunyai perjalanan karier yang panjang di Kepolisian Republik Indonesia.

Ia merupakan lulusan Akademi Kepolisian tahun 1988.

Perjalanan kariernya antara lain berlangsung di lingkungan Brimob dan berbagai posisi operasional serta manajerial di Kepolisian.

Ia pernah menjadi Dansat Brimob Polda Sumatera Utara, kemudian menduduki berbagai jabatan strategis lainnya.

Dalam perjalanan kariernya ia pernah dipercaya sebagai:

* Karo Ops Polda Metro Jaya;
* Danpas Pelopor Korbrimob Polri;
* Kakorpolairud Baharkam Polri;
* Kapolda Sulawesi Barat;
* Asops Kapolri;
* dan Astamaops Kapolri.

Pengalaman panjang tersebut memberikan bekal dalam kepemimpinan, manajemen organisasi, perencanaan, koordinasi, pengendalian operasi dan pengambilan keputusan.

Profil kepemimpinan tersebut juga menjadi salah satu hal yang ditonjolkan ketika ia memperkenalkan visi dan programnya untuk PB GABSI.

Namun sekarang tantangannya berbeda.

Tidak lagi mengelola organisasi kepolisian.

Tidak lagi mengatur operasi keamanan.

Sekarang ia harus mengelola sebuah keluarga besar yang terdiri dari pemain, pelatih, wasit, pengurus, klub, Pengprov dan komunitas bridge di seluruh Indonesia.

Dan menurut saya, pengalaman mengelola organisasi besar itulah yang akan menjadi salah satu modal penting dalam menjalankan amanah barunya.

DARI KONGRES MENUJU BABAK BARU

Kongres sudah selesai.

Aklamasi sudah terjadi.

Ketua Umum sudah terpilih.

Sekarang pertanyaannya bukan lagi:

Siapa yang menang?

Pertanyaan kita harus berubah menjadi:

Apa yang harus kita lakukan untuk bridge Indonesia?

Karena Kongres hanyalah satu bagian dari perjalanan.

Setelah pemilihan selesai, semua harus kembali menjadi satu keluarga.

Tidak ada lagi kelompok yang menang dan kelompok yang kalah.

Tidak ada lagi pendukung calon A atau calon B.

Yang ada adalah:

KELUARGA BESAR BRIDGE INDONESIA.

Dan saya kira ini momentum yang tepat untuk mengatakan:

LUPAKAN YANG LALU.

Bukan berarti sejarah harus dihapus.

Bukan berarti kita tidak boleh belajar dari kesalahan.

Justru kesalahan masa lalu harus menjadi pelajaran.

Tetapi jangan biarkan masa lalu terus menjadi beban.

Kita tidak mungkin membangun masa depan kalau energi kita terus habis untuk mempertentangkan masa lalu.

Sekarang saatnya bekerja.

“BRIDGE ITU MILIK KITA”

Ada satu kalimat yang menurut saya harus menjadi semangat kita bersama:

BRIDGE ITU MILIK KITA.

Bukan milik Ketua Umum.

Bukan milik PB GABSI saja.

Bukan milik Pengprov.

Bukan milik pemain senior saja.

Bridge adalah milik kita semua.

Milik pemain.

Milik pelatih.

Milik wasit.

Milik klub.

Milik Pengprov.

Milik junior.

Milik senior.

Milik mereka yang sudah puluhan tahun bermain.

Dan juga milik anak-anak yang baru hari ini belajar memegang kartu bridge.

Karena itu mari kita berbuat yang terbaik untuk milik kita sendiri.

Sebab kalau bridge Indonesia berkembang, kita semua yang akan menikmati hasilnya.

Kalau prestasi Indonesia meningkat, kita semua akan bangga.

Kalau semakin banyak anak muda bermain bridge, masa depan olahraga ini akan semakin panjang.

Dan pada akhirnya, ketika atlet-atlet kita berdiri membawa Merah Putih di arena internasional, manfaat itu bukan hanya untuk komunitas bridge.

Itu juga menjadi bagian dari kontribusi kita kepada bangsa dan negara.

VISI VERDIANTO

Sebelum terpilih, Verdianto telah menyampaikan visi dan program yang ingin dijalankannya.

Tema besarnya adalah:

“MEMBANGUN SISTEM, MEMPERKUAT PRESTASI, MENYATUKAN BRIDGE INDONESIA.”

Sementara visi yang ditawarkan adalah:

> “Mewujudkan Bridge Indonesia yang Modern, Berprestasi, Bersatu, dan Berdaya Saing Internasional.”

Visi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam lima misi utama.

# 1. MODERNISASI ORGANISASI DAN TATA KELOLA

GABSI membutuhkan organisasi yang mampu mengikuti perkembangan zaman.

Administrasi tidak bisa terus bergantung pada cara-cara lama.

Data harus tertata.

Informasi harus mudah diakses.

Komunikasi harus cepat.

Pelayanan kepada pemain dan Pengprov harus semakin baik.

Karena itu modernisasi sekretariat dan tata kelola organisasi menjadi salah satu prioritas Verdianto.

# 2. MEMPERKUAT PEMBINAAN DAN REGENERASI ATLET

Bridge Indonesia tidak boleh hanya bergantung kepada generasi yang sekarang.

Kita membutuhkan pemain muda.

Kita membutuhkan regenerasi.

Dan regenerasi tidak bisa dilakukan secara spontan.

Harus ada sistem.

Harus ada pelatih.

Harus ada kompetisi.

Harus ada kesempatan bertanding.

Harus ada jalur yang jelas dari pemain junior menuju pemain nasional.

Karena itu pembinaan dan regenerasi atlet menjadi salah satu pilar penting dari visi Verdianto.

# 3. MEMPERKUAT KOMPETISI NASIONAL

Pemain tidak akan berkembang tanpa pertandingan.

Latihan penting.

Pelatih penting.

Tetapi pertandingan adalah tempat seorang pemain menguji semua hasil latihan tersebut.

Karena itu Verdianto menawarkan penguatan kompetisi nasional, termasuk gagasan mengaktifkan kembali Liga Bridge Nasional dan membangun kalender kompetisi yang lebih teratur dan berkelanjutan.

Saya kira ini sangat penting.

Kita membutuhkan lebih banyak pertandingan.

Lebih banyak pemain.

Lebih banyak klub aktif.

Lebih banyak turnamen.

Dan yang paling penting:

### kompetisi yang berkesinambungan.

# 4. MENINGKATKAN PRESTASI INTERNASIONAL

Bridge Indonesia harus kembali mempunyai daya saing internasional.

Program Verdianto menempatkan event seperti:

* SEA Games;
* Asian Games;
* dan Kejuaraan Dunia

sebagai bagian dari sasaran peningkatan prestasi.

Namun prestasi internasional tidak bisa dibangun menjelang keberangkatan.

Ia harus dimulai bertahun-tahun sebelumnya.

Mulai dari pembinaan.

Seleksi.

Pelatihan.

Kompetisi.

Try-out.

Evaluasi.

Pendanaan.

Dan pembentukan tim yang solid.

Karena itu program prestasi internasional harus menjadi program jangka panjang, bukan program sesaat.

# 5. PERSATUAN DAN PEMERATAAN PEMBINAAN

Ini mungkin salah satu bagian yang paling penting.

Indonesia sangat luas.

Potensi pemain tidak hanya berada di Jakarta, Bandung, Surabaya atau kota-kota besar lainnya.

Potensi itu ada di seluruh Indonesia.

Dari Sumatera sampai Papua.

Dari Jawa sampai Sulawesi.

Dari Kalimantan sampai Nusa Tenggara.

Karena itu pembinaan harus semakin merata.

Kita harus menemukan pemain-pemain berbakat di daerah.

Kita harus membantu Pengprov.

Kita harus memperkuat klub.

Kita harus memperbanyak pelatih.

Dan kita harus memberikan kesempatan kepada anak-anak daerah untuk berkembang.

# LIMA PROGRAM PRIORITAS

Untuk mewujudkan visi tersebut, Verdianto telah menawarkan lima program prioritas untuk periode 2026–2030.

### 1. MODERNISASI SEKRETARIAT PB GABSI

Melalui digitalisasi administrasi, database atlet, database anggota dan sistem informasi organisasi.

Ini sangat penting.

Kita tidak mungkin membangun olahraga modern tanpa mempunyai data yang modern.

Kita harus tahu siapa pemain kita.

Di mana mereka berada.

Berapa usia mereka.

Bagaimana prestasi mereka.

Siapa pelatih mereka.

Dan bagaimana perkembangan mereka dari waktu ke waktu.

### 2. PENGUATAN KOMPETISI NASIONAL

Liga Bridge Nasional dan kalender pertandingan yang lebih teratur diharapkan dapat memberikan lebih banyak kesempatan kepada pemain untuk bertanding.

Karena semakin banyak pertandingan yang berkualitas, semakin banyak pula kesempatan pemain untuk berkembang.

### 3. REFORMASI MASTER POINT NASIONAL

Master Point merupakan bagian penting dari kehidupan pemain bridge.

Karena itu sistemnya harus mampu mencatat prestasi pemain secara rapi dan terintegrasi.

Hasil pertandingan resmi harus dapat masuk ke dalam basis data prestasi pemain.

Dengan demikian perjalanan seorang pemain dapat tercatat secara lebih transparan dan berkesinambungan.

### 4. PROGRAM PRESTASI INTERNASIONAL

Seleksi nasional berbasis tim, persiapan menuju event internasional dan peningkatan daya saing atlet menjadi bagian dari program yang ditawarkan.

Targetnya jelas:

### Indonesia harus mempunyai pemain dan tim yang mampu bersaing di Asia dan dunia.

### 5. PEMASYARAKATAN BRIDGE DI SEKOLAH DAN KAMPUS

Ini sangat penting untuk masa depan.

Kalau kita ingin bridge tetap hidup 20 atau 30 tahun mendatang, kita harus menanamnya pada generasi muda sekarang.

Sekolah.

Kampus.

Komunitas.

Di sanalah calon-calon pemain masa depan harus ditemukan.

Program ini juga mencakup peningkatan pelatih daerah dan penyusunan materi pembelajaran bridge.

# VISI YANG HARUS BERUBAH MENJADI KERJA

Tetapi setelah Kongres, kita memasuki tahap yang jauh lebih penting.

### Implementasi.

Visi yang bagus adalah awal.

Program yang bagus juga baru awal.

Yang menentukan adalah bagaimana program tersebut dijalankan.

Siapa yang mengerjakan?

Berapa anggarannya?

Dari mana sumber pendanaannya?

Bagaimana Pengprov dilibatkan?

Bagaimana pemain junior dipantau?

Bagaimana kualitas pelatih ditingkatkan?

Bagaimana kompetisi dibiayai?

Bagaimana sponsor dilibatkan?

Bagaimana prestasi diukur?

Dan bagaimana seluruh keluarga besar bridge Indonesia ikut mengambil bagian?

Inilah pekerjaan rumah besar PB GABSI periode 2026–2030.

# KETUA UMUM UNTUK SEMUA

Verdianto sekarang bukan lagi calon.

Ia sudah menerima mandat.

Karena itu ia bukan lagi Ketua Umum bagi mereka yang mendukungnya.

### Ia adalah Ketua Umum seluruh keluarga besar bridge Indonesia.

Dan menurut saya, inilah saatnya semua pihak memberikan kesempatan kepada kepemimpinan baru untuk bekerja.

Yang mempunyai gagasan, sampaikan.

Yang mempunyai kemampuan, bantu.

Yang mempunyai jaringan, buka jalan.

Yang mempunyai dana, dukung.

Yang mempunyai waktu, turun ke lapangan.

Yang mempunyai kritik, sampaikan dengan niat memperbaiki.

Karena kita semua mempunyai tujuan yang sama:

## MEMAJUKAN BRIDGE INDONESIA.

# JANGAN BIARKAN GAGASAN YANG BAIK IKUT KALAH

Kita juga harus belajar dari proses Kongres.

Dalam sebuah kompetisi organisasi, gagasan bisa datang dari banyak orang.

Tidak semua gagasan harus berasal dari Ketua Umum.

Tidak semua gagasan harus berasal dari pengurus pusat.

Kalau ada gagasan yang baik dari siapa pun, mari kita gunakan.

Kalau ada program yang sudah pernah berjalan dan ternyata bermanfaat, jangan malu untuk melanjutkannya.

Kalau ada kekurangan, kita perbaiki.

Kalau ada sistem lama yang masih baik, pertahankan.

Kalau ada teknologi baru yang bisa membantu, gunakan.

### Yang harus menang bukan kelompok.

### Yang harus menang adalah bridge Indonesia.

# DARI MAMUJU KITA MULAI

Mamuju sekarang bukan hanya menjadi tempat berlangsungnya sebuah Kongres.

Mamuju menjadi titik awal sebuah babak baru.

Di kota inilah seorang putra keluarga bridge menerima amanah untuk memimpin PB GABSI.

Seorang yang sejak kecil belajar bridge dari kakeknya.

Seorang yang pernah membawa nama Sumatera Utara dalam Kejurnas 2012 di Jakarta.

Seorang yang pada 2026 kembali turun bermain membawa nama Sulawesi Barat di Kejurnas Bridge ke-60.

Dan sekarang seorang yang harus membawa nama:

# INDONESIA.

Perjalanan itu menarik.

Dari keluarga.

Ke meja pertandingan.

Dari meja pertandingan ke pengabdian sebagai perwira Polri.

Dari kepemimpinan di Kepolisian.

Dan kini kembali ke meja bridge sebagai Ketua Umum PB GABSI.

Sebuah perjalanan yang seolah membawa dirinya kembali ke titik awal.

### Kembali ke bridge.

### Kembali ke rumah.

# BRIDGE ITU MILIK KITA

Maka kepada Komjen Pol. (Purn.) Drs. Verdianto Iskandar Bitticaca, M.Hum., selamat atas amanah yang diberikan oleh Kongres.

Tugas besar sudah menanti.

Bukan tugas untuk membuktikan siapa yang benar.

Bukan tugas untuk membalas masa lalu.

Bukan tugas untuk memenangkan kelompok tertentu.

Tetapi tugas untuk membangun masa depan.

### Lupakan yang lalu.

Ambil pelajarannya.

Satukan kembali keluarga besar bridge Indonesia.

Bangun sistemnya.

Perkuat prestasinya.

Perluas pembinaannya.

Hidupkan kompetisinya.

Temukan generasi mudanya.

Dan bawa kembali Merah Putih ke panggung bridge dunia.

Karena pada akhirnya:

> Bridge itu milik kita.

> Mari kita berbuat yang terbaik untuk milik kita sendiri.

> Karena ketika bridge Indonesia maju, kita semua akan merasakan manfaatnya.

> Dan ketika bridge Indonesia mengharumkan nama bangsa, kita semua akan menjadi bagian dari kebanggaan itu.

Dulu Verdianto duduk di meja pertandingan membawa nama Sumatera Utara.

Kemudian ia kembali bermain membawa nama Sulawesi Barat.

Kini ia harus memimpin sebuah keluarga besar yang jauh lebih luas.

### Seluruh Indonesia.

Dan karena itu, saya ingin menutup tulisan ini dengan satu kalimat sederhana:

# DULU MEMBAWA NAMA DAERAH, SEKARANG MEMBAWA AMANAH INDONESIA.

## Membangun Sistem.

## Memperkuat Prestasi.

## Menyatukan Bridge Indonesia.

### Dari Mamuju, mari kita mulai babak baru.

Bert Toar Polii
Tukang Bridge

Topik