KETAPANG – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dan kios eceran di Kabupaten Ketapang mulai berdampak pada kenaikan harga kebutuhan pokok serta sejumlah sektor usaha.
Sulitnya memperoleh pasokan Pertalite dan Pertamax membuat biaya operasional distribusi barang meningkat, yang kemudian berimbas pada harga jual di tingkat konsumen.
Salah seorang warga Desa Sungai Pelang, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Sulaiman (40), mengaku harga sejumlah kebutuhan pokok di wilayahnya mengalami kenaikan dalam beberapa hari terakhir.
“Dampak kelangkaan dan mahalnya harga Pertalite di tingkat pengecer membuat harga sayur dan beras di toko Indotani naik. Sayur naik sekitar Rp2.000 dan beras naik Rp1.000 per kilogram dari harga sebelumnya Rp16.000 per kilogram,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (14/7/2026).

Menurut Sulaiman, kenaikan harga terjadi karena jasa angkut barang menaikkan tarif akibat tingginya biaya bahan bakar serta antrean panjang di SPBU.
“Kata pemilik toko, kenaikan karena jasa angkut barang menaikkan harga, karena mahalnya BBM di tingkat pengecer dan antrean panjang di SPBU,” katanya.
Dampak serupa juga dirasakan pelaku usaha jasa cuci kendaraan di sepanjang Jalan Pelang–Kepuluk. Sejumlah pengusaha terpaksa menaikkan tarif layanan untuk menutupi biaya operasional yang meningkat.
Pemilik usaha cuci motor, Tatik Rondiah, mengatakan tarif cuci motor kini naik menjadi Rp20.000 per unit dari sebelumnya Rp15.000. Sementara tarif cuci semprot ditetapkan Rp10.000 per motor.
“Sekarang cuci motor di sini Rp20.000 per motor, yang sebelumnya hanya Rp15.000. Sedangkan untuk cuci semprot menjadi Rp10.000 per motor,” ujarnya.

Tatik menjelaskan kenaikan tarif tidak bisa dihindari karena harga BBM di tingkat pengecer mencapai Rp14.000 per liter. Di sisi lain, mendapatkan BBM di SPBU juga tidak mudah karena antrean panjang dan stok yang kerap habis.
“Ini dampak sulitnya mendapatkan bahan bakar untuk mesin cuci motor. Di kios sekarang harganya Rp14.000 per liter. Sedangkan jika beli di SPBU antreannya panjang dan terkadang minyak habis,” jelasnya.
Ia berharap distribusi Pertalite segera kembali normal agar aktivitas usaha dan harga kebutuhan masyarakat tidak terus mengalami kenaikan.
“Harapan saya Pertalite kembali normal. Jika ini terus berlanjut, semuanya juga akan ikut mahal dan naik harganya,” harapnya.*
