Opini

Jauhi Dunia Dekatkan Diri pada Akhirat

Avatar photo
Oleh Redaksi
Ukuran Font
Kecil Besar

CATATAN ini merupakan nasehat dari Imam Hatim, yakni bagian dari analisis terhadap Kitab Mukhtashar Minhajul Qoshidin oleh Ami Nur Baits. Dibahas dalam video ANB Channel berjudul “Ulama Yang Ilmunya Tidak Bermanfaat”

Dalam artikel tersebut, ulama akhirat dipaparkan senantiasa melihat dunia sebagai sesuatu yang hina, berupaya menghindari atau mengurangi ketergantungan padanya. 

Mereka lebih mengutamakan nilai-nilai akhirat dan mengajarkan bahwa hubungan dunia dan akhirat seperti wanita dengan madunya, harus selaras antara ucapan dan perbuatan.

Dan kecenderungannya senantiasa mencari ilmu yang bermanfaat di akhirat, serta menghindari ilmu yang jauh sekali manfaatnya dalam rangka lebih menguatkan yang lebih bermanfaat.

Kemudian di antara sifat ulama akhirat adalah mereka tidak terlalu terbuka dengan “sultaniyyah” atau kekuasaan serta menghindari gesekan dengannya. Huzaifah Radliallahu ‘anhu pernah berkata, “Berhati-hatilah kalian terhadap tempat-tempat fitnah,” Ada yang bertanya “Apa itu?!,” itu adalah pintunya para pejabat. 

Terkadang kalian menemui seorang ulama atau seorang pemimpin, maka dia akan membenarkan dengan cara dusta. Sehingga dia sendiri menyampaikan yang dirinya sendiri tidak punya (aslinya tidak punya).

Dan berkata Sa’id ibn Al-Musayyib Rahimahullah, “Jika ada seorang alim selalu mengiringi umara atau pemimpin, maka waspadalah padanya sesungguhnya dia adalah pencopet.”

Ciri ulama akhirat selanjutnya adalah mereka sering mengkaji ilmu untuk diamalkan dan menghindari ilmu yang merusak amal dan merusak hati (batin) dan bisa membisikkan atau menimbulkan was-was. 

Karena bentuk amal ibadah itu mudah, yang lebih rumit adalah membersihkannya dari kotoran. Dan isi dari agama prinsipnya adalah berusaha berlindung dari keburukan, dan dia tidak bisa menjauhi keburukan sampai dia mengenali mana yang buruk.

Selanjutnya ciri dari ulama akhirat adalah dia senantiasa mencari rahasia dari syari’ah, ia berusaha menggali hikmah dari amalan-amalan syar’iyyah. Jika dia tidak mampu menggali hikmahnya maka ia pasrahkan kepada syari’ah.

Termasuk juga di antara sifatnya adalah dia senantiasa mengikuti para Sahabat dan tabi’in pilihan dan dia berlindung dari setiap kejadian (“al-muhdats”) yang dapat menurunkan kualitas iman.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Syaqiq al-Bulkhi Rahimahullah, dia pernah mengatakan kepada al-Hatim. 

Imam Hatim menambahkan delapan masalah yang menjadi pelajaran hidupnya.

Pertama, aku memperhatikan makhluk maka masing-masing memiliki sesuatu yang dia cintai. Maka ketika dia sampai kuburan, sesuatu yang dia cintai akan berpisah dengannya. Maka aku jadikan kecintaanku pada amal saleh agar nanti di alam kubur dia bisa menemaniku.

Kedua, aku menyimak firman Allah Ta’ala (an-Naazi’aat Ayat 40), “Wa nahannafsa Anil hawa.” Artinya “Dan (Dia) melarang nafsu dari hawa “atau” dan (Dia) melarang melarang melampiaskan hawa nafsu. Maka aku berjuang keras untuk melawan hawa nafsu hingga aku bisa bertahan untuk taat kepada Allah Ta’ala.”

Ketiga, aku melihat segala sesuatu yang besertanya harta yang itu bernilai baginya, dia pasti menjaganya. Kemudian aku melihat firman Allah Allah Ta’ala (an-Nahl: 96), “Maa indakum yanfadu, wa maa indi huwa Baqi.” Artinya, “Apa yang ada pada kalian akan habis dan apa yang ada padaKu pasti akan kekal.” Maka setiap aku mendapatkan harta yang bernilai maka aku akan mengarahkannya kepada Allah agar pahalanya lebih abadi.

Keempat, aku melihat masyarakat, mereka kembali memperebutkan harta, dan jabatan, serta status sosial padahal itu tidak ada nilainya. Maka aku melihat kepada firman Allah Ta’ala (dalam al-Qur’an Surat al-Hujuroot ayat 13), “Innallaha akromakum ‘Indallahi atqookum,” artinya Sesungguhnya yang (Allah) muliakan di antara kalian di sisi Allah adalah yang bertaqwa di antara kalian. Maka sejak saat itu aku berusaha bertakwa agar mendapat posisi mulia di dekatNya.

Kelima, aku melihat masyarakat saling hasad (iri/dengki). Maka aku melihat kepada perkataan Allah Ta’ala, “Nahnubqosamnaa bainahum ma’iisyatahum.” Artinya, “Aku bagi jatah kehidupan mereka bagi mereka masing-masing,” sejak saat itu aku tinggalkan hasad.

Keenam, aku melihat mereka saling bermusuhan, lalu aku menyimak firman Allah Ta’ala dalam Faathir ayat 6, “Innasy-syaithooni ‘aduwwun fattakhidzuuhu ‘aduwwa,” artinya “Sesungguhnya syaitan itu musuh bagi kalian maka ambillah ia sebagai musuh/maka jadikan ia musuh,” maka aku tinggalkan permusuhan permusuhan sesama manusia dan menjadikan syetan sebagai satu-satunya musuhku.

Ketujuh, aku melihat mereka (manusia) sampai menggunakan diri mereka dalam mencari rezeki. Lalu aku simak dalam firman Allah Ta’ala (Qur’an Surat Hud Ayat 6), “Wa min daabbatin fil Ardli Illa ‘Alallhi rizquhaa.” Artinya, “Tidak ada satu pun makhluk di bumi kecuali rizkinya telah ditetapkan,” maka aku sibuk dengan apa yang menjadi kewajibanku, dan aku biarkan hartaku di sana.

Kedelapan, aku melihat mereka terlalu mengandalkan kemampuan mereka dalam berdagang, kemampuan dalam memproduksi barang, berbadan sehat, maka aku bertawakkal kepada Allah Ta’ala agar beda dengan yang lain.