SAMARINDA – Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dirancang mengacu pada tiga prinsip utama perkotaan sebagai fondasi pengembangan kota masa depan Indonesia. Ketiga konsep tersebut menjadi arah dalam mewujudkan kota yang berkelanjutan, adaptif, serta berbasis teknologi.
Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN, Myrna Asnawati Safitri, menjelaskan prinsip tersebut mencakup konsep Kota Hutan (forest city), Kota Spons (sponge city), dan Kota Cerdas (smart city). Ketiganya dirancang terintegrasi dalam satu sistem pembangunan yang selaras dengan lingkungan.
Menurut Myrna, konsep Kota Hutan menempatkan lanskap alami sebagai struktur utama kawasan. Pendekatan ini bertujuan menjaga fungsi ekologis sekaligus memungkinkan aktivitas manusia berjalan berdampingan dengan alam.
“Melalui pendekatan ini, hutan tidak hanya dipertahankan, tetapi menjadi bagian dari sistem kehidupan kota,” jelasnya, Senin (9/2/2026) di Auditorium Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.

Selain itu, IKN juga mengusung konsep Kota Spons yang menitikberatkan pada peningkatan kemampuan kawasan dalam menyerap air. Strategi ini diharapkan mampu mengurangi potensi banjir sekaligus menjaga ketersediaan dan kualitas air bagi masyarakat.
Di sisi lain, konsep Kota Cerdas menjadi penguat melalui pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan kota. Sistem berbasis digital diarahkan untuk meningkatkan kualitas layanan publik, efisiensi tata kelola, serta kenyamanan hidup warga.
Myrna menegaskan, ketiga prinsip tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi satu kesatuan dalam perencanaan pembangunan IKN.
“Pembangunan IKN diarahkan menjadi kota hutan, kota yang sensitif terhadap air, dan kota cerdas yang didukung teknologi,” ujarnya.
Ia menambahkan, implementasi konsep tersebut akan terus disesuaikan dengan tahapan pembangunan hingga 2045. Pendekatan itu diharapkan menjadikan IKN sebagai kota yang tangguh, berkelanjutan, serta memberikan manfaat luas bagi masyarakat.*
