SAMARINDA – Olahraga gulat di Samarinda terus menunjukkan eksistensinya. Bermula dari langkah almarhum Saleh Basire yang memperkenalkan gulat dari Balikpapan ke Samarinda pada era 1970-an, kini olahraga ini sudah melahirkan hingga tujuh generasi pegulat.
Pelatih gulat Samarinda, Buyamin, menyebut tradisi gulat di kota ini tumbuh karena adanya regenerasi yang kuat, terutama lewat jalur keluarga.
“Pak Saleh itu generasi pertama, saya generasi ketiga. Sekarang sudah ada generasi kelima hingga ketujuh. Jadi, gulat di Samarinda ini benar-benar diwariskan dari senior ke junior, bahkan dari keluarga ke keluarga,” ujarnya kepada JurnalBorneo.com saat ditemui di Gelanggang Olahraga (GOR) Kadrie Oening, Sempaja, Samarinda, ketika melatih para atlet menjelang pertandingan, Minggu (24/8/2025).
Menurutnya, Samarinda masih menjadi pusat pembinaan gulat di Kalimantan Timur. Ia menyebut mayoritas atlet berasal dari Samarinda, ditambah adanya sekolah khusus olahraga (SKOI) dan PPLPD yang ikut menyuplai atlet sehingga perkembangan cabang ini sangat baik, bahkan mampu membantu daerah lain saat ada event.
Buyamin menyebut, faktor keluarga menjadi ciri khas yang membuat regenerasi tidak terputus.

“Cucu saya yang umur enam tahun sudah main gulat. Yang umur tiga tahun pun sudah bermain-main di matras karena ikut orang tuanya dan kakeknya. Itu otomatis membuat mereka suka,” tambahnya.
Meski begitu, ia mengakui ada tantangan bagi atlet yang bukan berasal dari jalur keturunan. Menurutnya, banyak lulusan SKOI yang berhenti setelah lulus karena tidak memiliki wadah lanjutan, seperti PPLM untuk tingkat mahasiswa. Sebagian lainnya memilih pindah ke cabang olahraga lain, seperti sambo atau kabaddi. Namun, ia menegaskan hal itu bukan masalah selama para atlet tetap bisa berprestasi.
Dari sisi prestasi, Samarinda terbukti mendominasi. Saat ini, lima atlet gulat asal Kalimantan Timur berada di Pelatnas, empat di antaranya dari Samarinda.
“Bahkan ada yang berlatih di Korea,” kata Buyamin.
Teknik dan fisik gulat yang lengkap juga membuat banyak atlet Samarinda bisa meraih medali di cabang bela diri lain di PON. Hal ini memperkuat posisi gulat sebagai salah satu fondasi penting olahraga tarung.
Dukungan pemerintah turut memperkokoh perjalanan gulat di Samarinda. Mulai dari penyediaan fasilitas, pembinaan melalui SKOI dan PPLPD, hingga penyelenggaraan event seperti Piala Gubernur menjadi pendorong agar olahraga ini tetap berkembang. Buyamin menyebut pemerintah selalu hadir mendukung, baik lewat akademi maupun melalui event resmi, sehingga gulat di Samarinda tetap bertahan hingga kini.
Ke depan, lanjutnya tantangan terbesar ada pada penguatan regenerasi pasca-sekolah.
“Kalau bisa ada wadah lanjutan untuk atlet muda, regenerasi akan makin kuat. Tapi sejauh ini, Samarinda tetap jadi barometer gulat di Kaltim,” tutupnya.
