Tenggarong

Gen Z Kian Ragu Menikah, DPPKB Samarinda Beri Solusi Edukasi dan Literasi

Avatar photo
Oleh Putri Tsabitah An Nabil
Ukuran Font
Kecil Besar

SAMARINDA – Ungkapan seperti “married is scary” dan pilihan hidup childfree semakin sering digaungkan generasi muda, terutama di kalangan Gen Z. Narasi itu tidak sekadar tren, tapi mencerminkan kecemasan terhadap masa depan, tekanan ekonomi, dan keraguan terhadap institusi pernikahan.

Waode Rosliani, Kepala Bidang Keluarga Berencana Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga DPPKB Kota Samarinda, menyebut kondisi tersebut sebagai sinyal perlunya ruang edukasi dan diskusi yang lebih inklusif bagi remaja.

“Banyak anak muda mulai takut menikah atau enggan punya anak karena tidak siap secara mental maupun ekonomi. Lewat PIK-R, kami ingin mereka bisa mempersiapkan kehidupan secara terencana, bukan sekadar ikut tren,” terang Waode, Jumat (11/7/2025).

Melalui Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), remaja dibekali pemahaman mengenai kesehatan reproduksi, relasi yang sehat, perencanaan kehidupan berkeluarga, hingga pengembangan diri. Pendekatan dilakukan lewat konselor sebaya agar komunikasi terasa setara dan tidak menggurui.

Program ini menyasar pelajar SMA/SMK, mahasiswa, hingga komunitas pemuda. Metode partisipatif membuat remaja lebih terbuka mengutarakan keresahan dan mendapatkan informasi berdasarkan fakta, bukan asumsi media sosial.

Waode menekankan pentingnya literasi relasi dan perencanaan hidup sejak usia muda. Ia menilai, pola pikir yang terbentuk sejak remaja menentukan sikap mereka terhadap komitmen jangka panjang seperti pernikahan dan pengasuhan anak.

“Kami tidak pernah menyalahkan pilihan mereka. Tapi kami ingin mereka paham bahwa setiap keputusan punya konsekuensi. Maka perlu kesiapan emosional, intelektual, dan sosial,” ucapnya.

Harapannya, ruang diskusi yang terbuka dan sehat ini mampu melahirkan generasi yang lebih bijak dalam mengambil keputusan tentang masa depan.(*)