SAMARINDA – Transformasi digital di Kalimantan Timur (Kaltim) bergerak semakin masif. Bank Indonesia (BI) mencatat penggunaan sistem pembayaran digital, khususnya Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), bukan lagi sekadar tren gaya hidup, melainkan telah menjadi kebutuhan pokok dalam aktivitas ekonomi harian masyarakat di Bumi Etam.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltim, Budi Widihartanto, mengungkapkan data signifikan dalam Temu Media Bank Indonesia Kaltim di Samarinda, Rabu (21/1/2026).
Hingga November 2025, jumlah pengguna QRIS di Kaltim telah menyentuh angka 841,6 ribu orang, melonjak tajam dibandingkan periode sebelumnya. “Peningkatan jumlah pengguna dan merchant QRIS menunjukkan bahwa transaksi digital kini bukan lagi sekadar alternatif, tetapi sudah menjadi kebutuhan masyarakat dalam aktivitas ekonomi sehari-hari,” ujar Budi.
Pertumbuhan pengguna berbanding lurus dengan kesiapan pelaku usaha. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 780,6 ribu merchant QRIS telah tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Kaltim. Budi menilai, meluasnya ekosistem ini memberikan dampak instan pada inklusi keuangan, terutama bagi pelaku UMKM.
Dengan beralih ke digital, UMKM dinilai lebih mudah menjangkau konsumen, memiliki pencatatan transaksi yang lebih rapi, hingga mempermudah akses mereka untuk mendapatkan pembiayaan dari perbankan.
Menariknya, seiring dengan menguatnya transaksi digital, peredaran uang kartal (uang tunai) di Kaltim justru mengalami posisi net outflow sebesar Rp491,9 miliar pada November 2025. Fenomena ini menjadi indikator kuat bahwa masyarakat mulai enggan membawa uang tunai dan lebih memilih cara yang praktis serta efisien melalui ponsel pintar.
Di sisi lain, Budi juga memaparkan kondisi transaksi bernilai besar. Meskipun transaksi ritel (QRIS) tumbuh subur, transaksi melalui SKNBI dan RTGS pada November 2025 sempat mengalami kontraksi sebesar 42,6 persen (yoy). Namun, BI menekankan bahwa hal tersebut bukan penurunan minat, melainkan bentuk konsolidasi transaksi besar dan penyesuaian aktivitas ekonomi makro.
“Untuk transaksi ritel, khususnya QRIS, justru menunjukkan tren yang terus meningkat. Ini menandakan transformasi perilaku masyarakat dalam bertransaksi semakin kuat,” tegasnya.
Menatap masa depan, Bank Indonesia Kaltim berkomitmen untuk terus memperluas ekosistem pembayaran nontunai. Sinergi dengan pemerintah daerah akan terus diperkuat melalui edukasi dan penambahan titik-titik pembayaran digital di berbagai sektor publik.
Langkah ini diharapkan tidak hanya memberikan rasa aman dan andal dalam bertransaksi, tetapi juga menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur yang lebih inklusif dan transparan di era digital.(*)
