Serba Serbi

Dari Limbah, Amat Menanam Harapan di Tanah Datar

Avatar photo
Oleh Heldiyanur
Ukuran Font
Kecil Besar

KUTAI KARTANEGARA – Pagi belum sepenuhnya meninggi ketika Choirul Munasikin, yang akrab disapa Amat, mulai memperhatikan barisan tanaman di lahan pertanian seluas 4 hektar di Desa Tanah Datar, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Cabai Merah Keriting, Tomat, Kembang Kol dan Jagung tumbuh di antara hamparan lahan yang menjadi bagian dari keseharian para petani. Bagi Amat, tanaman-tanaman itu bukan sekadar hasil yang kelak dipanen. Di baliknya ada proses panjang untuk belajar, mencoba, dan mencari cara agar bertani tetap bisa berjalan ketika biaya produksi terus menjadi tantangan.

Ada masa ketika bagi Amat, sisa-sisa organik di sekitar lahan pertanian hanyalah sesuatu yang harus disingkirkan.

Sampah organik. Limbah peternakan. Bahan-bahan yang tersisa setelah aktivitas sehari-hari.

Kini, petani berusia 49 tahun ini melihatnya dengan cara berbeda.

Di lahan pertanian itu bahan-bahan yang dulu dianggap tak berguna itu mulai dikembalikan ke tanah. Bukan dalam bentuk sampah, melainkan pupuk cair yang kemudian digunakan untuk menumbuhkan Cabai Merah Keriting, Tomat, Kembang Kol dan Jagung.

Perubahan cara pandang itu tidak terjadi dalam semalam.

Amat bersama 20 petani di Kelompok Tani Wira Karya harus belajar, mencoba, dan menemukan cara yang paling sesuai dengan kondisi mereka.

“Dengan pengolahan yang tepat, material tersebut dapat menjadi pupuk cair dan kembali memberi kehidupan bagi tanaman,” ucap Amat, Rabu (12/8/2026).

Kalimat itu sederhana. Namun, bagi para petani Tanah Datar, di dalamnya ada upaya untuk menjawab persoalan yang selama ini dekat dengan kehidupan mereka: bagaimana bertani dengan biaya yang tetap terjangkau tanpa terus menambah beban terhadap lingkungan.

Ketika Pupuk Menjadi Persoalan

Bagi petani, pupuk bukan sekadar salah satu kebutuhan produksi.

Ia menentukan seberapa besar biaya yang harus dikeluarkan sebelum tanaman menghasilkan.

Ketika harga pupuk meningkat, ongkos budidaya ikut terdorong. Pada saat yang sama, penggunaan bahan pertanian anorganik secara terus-menerus juga menimbulkan kekhawatiran terhadap kondisi lingkungan.

Di tengah persoalan itu, Amat dan petani lainnya mulai melihat apa yang sebenarnya tersedia di sekitar mereka.

Limbah peternakan dan sampah organik ternyata masih memiliki nilai.

Di sebuah kolam fertilizer, bahan-bahan tersebut diolah. Dari proses itu, para petani belajar membuat pupuk cair organik yang dapat dimanfaatkan kembali untuk tanaman mereka.

Mereka tidak sekadar menerima hasil jadi. Ada pengetahuan yang harus dipahami: bagaimana bahan diproses, bagaimana formula dikembangkan, dan bagaimana pupuk digunakan untuk mendukung tanaman.

Perlahan, muncul pemahaman baru bahwa pertanian tidak selalu harus bergantung sepenuhnya pada apa yang dibeli dari luar.

Apa yang tersedia di sekitar desa pun bisa menjadi bagian dari solusi.

Belajar dari Tanah Sendiri

Bagi Amat, proses tersebut bukan semata soal pupuk.

Ada perubahan yang lebih besar: petani mulai memiliki ruang untuk mencoba dan mengambil keputusan berdasarkan pengalaman mereka sendiri.

Ketika pengolahan pupuk mulai dipahami, pengetahuan lain ikut berkembang.

Pada 2024, para petani mulai belajar budidaya hidroponik. Sistem hidroponik dibangun dan instalasi pengairan terintegrasi mulai diterapkan.

Teknologi itu membawa cara kerja yang berbeda.

Air harus dikelola dengan lebih terencana. Tanaman membutuhkan perlakuan yang berbeda. Para petani pun dituntut memahami sistem yang sebelumnya belum menjadi bagian dari keseharian mereka.

Tidak semuanya langsung berjalan sempurna.

Tetapi justru di situlah proses pemberdayaan berlangsung.

Petani mencoba.

Mereka menemukan kesalahan.

Mereka memperbaikinya.

Lalu mencoba lagi.

Sebab, bagi masyarakat yang ingin mandiri, teknologi bukan hanya soal alat yang diberikan. Pengetahuan untuk menggunakan dan mengembangkannya jauh lebih penting.

Dari Persoalan Sehari-hari Menjadi Pengetahuan

Apa yang berlangsung di lahan pertanian Tanah Datar akhirnya berkembang lebih jauh dari aktivitas budidaya.

Eksperimen para petani melahirkan publikasi ilmiah berjudul “Pembuatan Pupuk Cair Organik di Kelompok Tani Wira Karya Tanah Datar Muara Badak Kabupaten Kutai Kartanegara.”

Inovasi tersebut juga memperoleh paten sederhana untuk formula Pupuk Cair Semi Organik dari Campuran Pupuk Kandang Kotoran Ayam Pedaging dan Pupuk NPK 16-16-16 pada Tanaman Cabai Merah.

Bagi Amat dan kelompok tani, pencapaian itu memperlihatkan bahwa pengetahuan yang lahir dari kebutuhan sehari-hari dapat berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar.

Awalnya hanya soal pupuk.

Kemudian menjadi percobaan.

Dari percobaan muncul formula.

Dari formula lahir dokumentasi ilmiah dan inovasi yang memiliki nilai lebih luas.

Namun, ukuran keberhasilan yang paling dekat dengan kehidupan petani tetaplah apa yang terjadi di lahan mereka.

Apakah tanaman tumbuh?

Apakah biaya dapat ditekan?

Apakah pendapatan bertambah?

Dan apakah mereka memiliki kemampuan untuk melanjutkan apa yang sudah dipelajari?

Limbah yang Kembali Menjadi Kehidupan

Program tersebut juga memberikan peningkatan pendapatan bagi kelompok tani dan 15 anggotanya.

Angka itu mungkin terlihat kecil jika berdiri sendiri.

Tetapi bagi petani, perubahan sering kali memang dimulai dari hal-hal yang kecil.

Satu bahan yang tidak lagi dibuang.

Satu pupuk yang bisa dibuat sendiri.

Satu metode budidaya yang mulai dipahami.

Satu panen yang memberikan tambahan penghasilan.

Dari hal-hal kecil itulah sebuah kebiasaan baru perlahan terbentuk.

Limbah tidak lagi sekadar limbah.

Ia menjadi bahan yang bisa kembali ke tanah.

Dan tanah, pada akhirnya, kembali memberikan kehidupan.

Jalan Panjang Menuju Mandiri

Amat tahu bahwa perjalanan tersebut belum selesai.

Membuat petani mampu menjalankan kegiatan secara mandiri jauh lebih sulit daripada sekadar memperkenalkan sebuah teknologi.

Karena itu, pengetahuan harus terus dipelihara. Kelompok harus terus berjalan. Dan setiap inovasi harus benar-benar bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Tujuan akhirnya bukan sekadar memiliki pupuk semi-organik, hidroponik, atau sistem pengairan.

Tujuannya adalah kemampuan.

Kemampuan untuk mengelola.

Kemampuan untuk mengembangkan.

Dan kemampuan untuk meneruskan ketika pendampingan suatu hari nanti tidak lagi sebesar sebelumnya.

Di titik itu, keberhasilan tidak lagi diukur dari seberapa banyak sesuatu diberikan kepada masyarakat, tetapi dari seberapa banyak yang mampu mereka lakukan dengan pengetahuan yang telah dimiliki.

Lahan pertanian Program ECO-STEP Semberah (Empowering Community through Organic Sustainable Farming Program in Semberah Area) di Desa Tanah Datar oleh PT Pertamina EP (PEP) Sangatta Field.

Dukungan yang Datang dari Kolaborasi

Perjalanan Amat dan Kelompok Tani Wira Karya tersebut kemudian mendapat dukungan melalui Program ECO-STEP Semberah (Empowering Community through Organic Sustainable Farming Program in Semberah Area).

Program yang mulai dikembangkan sejak 2023 itu merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Pertamina EP (PEP) Sangatta Field.

Dinatika Umami, CDO (Community Development Officer) PEP Sangatta Field Semberah Area, mengatakan ECO-STEP dikembangkan untuk menjawab persoalan lingkungan dan ekonomi yang dihadapi masyarakat.

“Program ECO-STEP diterapkan sebagai solusi terhadap isu lingkungan yang diakibatkan oleh penggunaan pertanian anorganik, serta untuk mengatasi harga pupuk yang tinggi bagi para petani,” ujar Tika, sapaan akrabnya.

Pada 2024, perjalanan tersebut juga memperoleh Silver Winner Indonesia Social Responsibility Awards kategori Economic Empowerment.

Ia menambahkan, selama dua tahun pelaksanaan, pemanfaatan sampah organik sebagai bahan baku pupuk disebut berkontribusi terhadap pengurangan emisi sebesar 0,0976 ton CO₂.

Dalam pengembangannya, PEP Sangatta Field menggandeng Pemerintah Desa Tanah Datar, akademisi, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM, serta melibatkan UMKM dan BUMDes.

Bagi PEP Sangatta Field, ECO-STEP merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjalankan operasi dan bisnis hulu migas dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

Amat saat mengamati barisan tanaman Cabai Merah di lahan pertanian seluas 4 hektar di Desa Tanah Datar.

Menanam Sesuatu yang Akan Tinggal

Pagi kembali bergerak di Tanah Datar.

Cabai Merah Keriting, Tomat, Kembang Kol dan Jagung terus tumbuh. Tanah tetap digarap. Para petani tetap bekerja.

Tetapi kini, ada sesuatu yang berbeda dari cara mereka memandang lahan.

Mereka tidak hanya melihat tanah sebagai tempat menanam.

Mereka mulai melihat limbah sebagai sumber daya.

Mereka melihat pengetahuan sebagai modal.

Dan mereka melihat pertanian bukan sekadar pekerjaan hari ini, melainkan sesuatu yang perlu dijaga agar tetap bisa menjadi sumber penghidupan di masa depan.

Bagi Amat, mungkin tidak ada istilah yang lebih rumit dari itu.

Ia hanya ingin apa yang dipelajari para petani tidak berhenti ketika sebuah program berakhir.

Pengetahuan itu harus tinggal.

Bisa diteruskan.

Bisa dikembangkan.

Dan suatu hari, bisa berdiri sendiri.

Sebab dari sebuah lahan kecil di Tanah Datar, para petani sedang menanam sesuatu yang jauh lebih panjang umurnya daripada satu musim panen: harapan untuk hidup dari tanah sendiri.*(heldi)