SAMARINDA – Mahalnya harga buku di awal tahun ajaran baru 2023/2024 menimbulkan keluhan di kalangan orang tua murid di Kalimantan Timur.
Di salah satu Sekolah Dasar (SD) di Samarinda, orang tua murid melaporkan bahwa mereka harus mengeluarkan hingga Rp 903.000 untuk membeli buku paket dan Lembar Kerja Siswa (LKS). Lonjakan harga itu dianggap tidak sebanding dengan pendapatan mereka, sehingga menambah beban ekonomi keluarga.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kaltim Puji Setyowati mengatakan, pendidikan memang membutuhkan sarana dan prasarana yang tidak hanya disiapkan oleh pemerintah, tetapi juga oleh siswa dan orang tua. Ia menekankan bahwa konsep Merdeka Belajar sebenarnya memberikan keuntungan bagi para siswa, terutama dalam penggunaan teknologi.
Ia menyarankan agar siswa memanfaatkan e-book yang bisa diakses dengan mudah. Menurutnya, tidak perlu mempermasalahkan pembelian buku yang mahal selama siswa menguasai teknologi dan bisa mengakses buku secara online.
“Kemarin selama covid kan anak anak sudah terlatih dengan teknologi, saat ini buku tidak harus kita beli, sekarang ebook sudah tinggal buka,” ucapnya di DPRD Kaltim, Kamis (18/7/2024).
Dengan sistem Merdeka Belajar, dia percaya bahwa siswa dan orang tua memiliki ruang untuk meminimalisir biaya, seperti biaya pembelian buku. Ia juga menekankan pentingnya literasi bagi orang tua dan siswa untuk memahami cara-cara baru dalam mendapatkan bahan belajar.
Menurutnya, literasi ini perlu ditingkatkan agar orang tua dan siswa dapat memanfaatkan teknologi untuk mengakses buku secara online, bukan hanya untuk bermain game.
“Jadi anak anak jangan diberikan handphone hanya untuk bermain game, tapi diliterasi, bagaimana cari buku dan menggunakannya,” lanjutnya.
Ia berharap dengan pemahaman yang baik dan pemanfaatan teknologi yang tepat, diharapkan biaya pendidikan dapat lebih terjangkau.
