Bengkayang

‎BMKG Catat 52 Titik Panas di Ketapang, Tertinggi di Kalimantan Barat

Avatar photo
Oleh Agus
Ukuran Font
Kecil Besar

KETAPANG – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Supadio mencatat Kabupaten Ketapang menjadi wilayah dengan jumlah titik panas (hotspot) terbanyak di Kalimantan Barat. Dari total 181 titik panas yang terdeteksi pada 11 Juli 2026, sebanyak 52 titik berada di Kabupaten Ketapang.

‎Sebaran titik panas tersebut menjadi indikator meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.

‎Berdasarkan data BMKG, 52 titik panas di Ketapang terdiri atas satu titik dengan tingkat kepercayaan tinggi, satu titik tingkat rendah, dan 50 titik dengan tingkat kepercayaan menengah.

‎Titik-titik panas tersebut tersebar di sejumlah kecamatan, yakni Jelai Hulu, Kendawangan, Manis Mata, Marau, Matan Hilir Utara, Matan Hilir Selatan, Muara Pawan, Nanga Tayap, Sandai, Tumbang Titi, Sungai Melayu Rayak, Singkup, Simpang Hulu, Simpang Dua, dan Benua Kayong.

Potensi hujan per 3 jam di Kalimantan Barat, 12-13 Juli 2026

‎Data tersebut sejalan dengan sejumlah kejadian karhutla yang terjadi di beberapa wilayah Kabupaten Ketapang dalam beberapa waktu terakhir, di antaranya di Kecamatan Matan Hilir Selatan dan Matan Hilir Utara.

‎Saat ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Pemadam Kebakaran, Manggala Agni, TNI, Polri, serta pemerintah desa terus melakukan upaya pemadaman dan mengintensifkan patroli pencegahan karhutla di berbagai titik rawan.

‎Selain Ketapang, Kabupaten Sanggau menempati posisi kedua dengan 26 titik panas, disusul Kabupaten Sintang sebanyak 24 titik dan Kabupaten Landak dengan 21 titik.

‎Selanjutnya, Kabupaten Kayong Utara dan Kapuas Hulu masing-masing terdeteksi memiliki 15 titik panas, Bengkayang sembilan titik, Sekadau dan Melawi masing-masing enam titik, Kubu Raya empat titik, serta Kabupaten Sambas tiga titik panas.

‎Sementara itu, Kabupaten Mempawah, Kota Pontianak, dan Kota Singkawang menjadi tiga daerah di Kalimantan Barat yang tidak terpantau memiliki titik panas pada periode pengamatan tersebut.

‎BMKG menjelaskan, deteksi titik panas dilakukan menggunakan sensor VIIRS dan MODIS yang terpasang pada satelit polar NOAA-20, Suomi NPP, Terra, dan Aqua. Teknologi tersebut digunakan untuk mengidentifikasi anomali suhu panas yang berpotensi mengindikasikan terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

‎Pengamatan dilakukan pada siang dan malam hari. Namun, BMKG mengingatkan bahwa titik panas di wilayah yang tertutup awan atau berada pada area blank zone tidak dapat terdeteksi oleh satelit.*