SAMARINDA – Menjelang bulan Ramadhan, lonjakan harga bahan pokok kerap menjadi tantangan bagi masyarakat. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Bank Indonesia (BI) Kaltim berupaya menjaga stabilitas harga dan mendorong pola belanja yang lebih bijak.
Kepala Perwakilan BI Kaltim, Budi Widihartanto, menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, ulama, dan masyarakat dalam mengendalikan kenaikan harga, terutama pada kebutuhan pokok. Ia menjelaskan bahwa peningkatan konsumsi menjelang Ramadhan seringkali menyebabkan kelangkaan barang dan kenaikan harga.
“Menjelang Ramadan dan Lebaran, kami melihat adanya kecenderungan perilaku konsumtif yang meningkat. Oleh karena itu, kami mengajak para ulama untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat agar tidak membeli barang secara berlebihan, karena hal itu tidak baik dari sisi ekonomi maupun agama,” ujar Budi, Selasa (18/2/2025).
Sebagai bagian dari upaya pengendalian inflasi, BI Kaltim menggagas Gerakan Ulama Peduli Inflasi, dengan melibatkan ulama dalam mengedukasi masyarakat agar lebih bijak dalam berbelanja. Langkah ini diharapkan dapat mencegah kepanikan belanja yang berujung pada kelangkaan barang.
Selain itu, BI Kaltim juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah, termasuk gubernur, bupati, dan wali kota, untuk menyosialisasikan imbauan belanja bijak.
“Kami ingin memastikan masyarakat lebih sadar akan pentingnya mengelola keuangan dengan baik selama Ramadhan agar tidak terjadi lonjakan harga yang tidak terkendali,” tambahnya.
Budi juga mengingatkan para pedagang untuk berperan dalam menjaga stabilitas pasar dengan tidak menaikkan harga secara sepihak. Ia menegaskan bahwa pedagang memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan pasar yang sehat dan berkelanjutan.
Dengan kolaborasi yang kuat antara BI Kaltim, pemerintah daerah, ulama, dan masyarakat, ia berharap lonjakan harga bahan pokok menjelang Ramadhan dapat dikendalikan. BI Kaltim juga akan terus memantau pergerakan harga guna memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi tanpa kenaikan yang berlebihan.(*)
