SAMARINDA – Pengalaman tidak mengenakkan atas layanan publik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda ternyata bukan saja dialami oleh Rahmat Hidayat warga Asal desa Kasai kecamatan Pulau Derawan kabupaten Berau saat membawa Rusmiati ibundanya kontrol setelah lebih satu bulan di rawat di ruang Edelweis RSUD AWS.
Berbagai tanggapan atas pemberian jurnalborneo.com bermunculan. Salah satunya di grup WhatsApp silaturahmi & info Samarinda adalah cukup mengelus dada.
Yeyen, salah satu anggota grup WhatsApp silaturahmi & infoSamarinda menanggapi dengan linangan air mata, “Nah ini sama kasusnya sama dengan yang dialami ibu saya dan kakak ipar saya, kakak ipar saya tinggal di Malinau, dapat rujukan ke Tarakan, Balikpapan atau Samarinda pilih salah satu. Jadi mereka memilih ke RSUD AWS Samarinda, Karena di Samarinda saudaranya semua tinggal,” jelas Yeyen.

Yeyen pun mengikuti prosedur daftar online. “Sudah daftar online, besoknya datanglah ke AWS, disuruh ke sana ke mari, tujuan ke poli obgyn dan satu lagi lupa saya namanya, tapi di awal disuruh ke lab dulu, dan dari situ tidak ada kejelasan lagi sampai sekarang, dengan alasan dokternya gak ada,” tuturnya.


AWS sangat buruk pelayanannya, lanjut Yeyen, padahal dari RS Malinau sudah memberi rujukan (awal kanker serviks, tapi ada benjolan besar sekitar 19 mili, yang diperkirakan dokter antara tumor atau apalah itu, di Malinau diperkirakan sudah stadium 2. “Saya sangat berharap semoga cepat ada tindakan yg serius dari pemerintah provinsi Kalimantan Timur untuk perbaikan manajemen pelayanan RSUD AWS,” pungkas Yeyen.(mn)
