KUBU RAYA – Sektor perumahan dinilai memiliki peran strategis dalam menggerakkan ekonomi Kalimantan Barat. Real Estate Indonesia (REI) Kalbar menargetkan pembangunan 10 ribu unit rumah subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sepanjang 2026.
Target tersebut disampaikan dalam penyelenggaraan REI Expo Kalbar 2026 di Gaia Mall Bumi Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalbar, Rabu (26/8/2026).
Ketua REI Kalbar Baharudin mengatakan pembangunan ribuan rumah subsidi tidak hanya berdampak pada pemenuhan kebutuhan hunian masyarakat, tetapi juga menciptakan efek berganda terhadap berbagai sektor ekonomi.
Menurutnya, pembangunan rumah melibatkan banyak sektor pendukung, mulai dari industri bahan bangunan, pemasok pasir dan batu, hingga jasa konstruksi dan sektor lainnya.
Dengan asumsi satu unit rumah membutuhkan sekitar lima pekerja, target pembangunan 10 ribu unit rumah yang dicanangkan REI Kalbar berpotensi membuka lapangan pekerjaan bagi sekitar 50 ribu tenaga kerja.
“Industri perumahan memiliki efek berganda yang luas. Tidak hanya bagi pengembang tetapi bagi industri pendukung seperti bahan bangunan, pemasok pasir, hingga sektor jasa lainnya. Tidak kalah penting, sektor ini mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat,” ujar Baharudin, Rabu (26/8/2026).
Ia menjelaskan, secara keseluruhan pembangunan rumah subsidi untuk MBR di Kalbar pada 2026 ditargetkan mencapai 20 ribu unit. REI Kalbar sendiri mengambil porsi target sebesar 10 ribu unit.
REI Expo Kalbar 2026 kemudian menjadi salah satu upaya mempertemukan pengembang, calon konsumen, dan lembaga pembiayaan dalam satu kegiatan.
Baharudin berharap berbagai kemudahan dan promosi yang ditawarkan selama expo dapat meningkatkan minat masyarakat untuk memiliki rumah.
“Harapannya daya beli masyarakat meningkat karena ada berbagai promosi seperti kemudahan tanpa uang muka, hadiah langsung, dan berbagai penawaran menarik lainnya,” katanya.
Sementara itu, Kepala Divisi Kerja Sama dan Kebijakan Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) Wahyudi menegaskan penyediaan rumah subsidi merupakan tanggung jawab bersama.
Menurutnya, pemerintah, pengembang, perbankan dan pemangku kepentingan lainnya harus memperkuat kolaborasi agar akses masyarakat berpenghasilan rendah terhadap hunian layak semakin terbuka.
Wahyudi juga menyoroti pentingnya dukungan pemerintah daerah melalui kebijakan yang dapat mempercepat pembangunan rumah subsidi, termasuk kemudahan dalam pembiayaan dan pengurusan administrasi.
Salah satunya melalui pembebasan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) sesuai ketentuan dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri.
Ia menyebut program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang dikelola BP Tapera menunjukkan perkembangan positif. Hingga 20 Oktober 2025, realisasi penyaluran FLPP telah mencapai 203.439 unit rumah dengan nilai pembiayaan Rp25,24 triliun.
“Kami berterima kasih atas kerja sama dengan REI dalam mendukung program penyediaan rumah subsidi. Saya sudah beberapa kali datang ke Kalbar dan bangga melihat bagaimana daerah ini berlomba-lomba membangun rumah subsidi terbaik bagi masyarakat,” ujar Wahyudi.
Ia menegaskan, keberhasilan program rumah subsidi tidak cukup hanya mengandalkan pengembang, tetapi membutuhkan dukungan lintas sektor.
“Program rumah subsidi membutuhkan kolaborasi semua pihak agar semakin banyak masyarakat berpenghasilan rendah yang dapat memiliki hunian layak,” tegasnya.
Pembukaan REI Expo Kalbar 2026 turut dihadiri Wakil Ketua DPP REI sekaligus Wakil Bupati Kubu Raya Sukiryanto, Gubernur Kalbar Ria Norsan, perbankan, pengembang perumahan, sponsor, serta sejumlah tamu undangan.
Pameran tersebut diharapkan tidak hanya menjadi ajang promosi properti, tetapi juga menjadi momentum memperluas akses kepemilikan rumah sekaligus mendorong perputaran ekonomi dan penyerapan tenaga kerja di Kalbar.
