PENAJAM – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) terus berupaya menangani pemulangan orang terlantar yang ditemukan di wilayahnya. Namun, masih banyak oknum yang mencoba memanfaatkan bantuan ini untuk kepentingan pribadi.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinsos PPU, Saidi, dalam keterangannya kepada Jurnalborneo.com, Selasa (11/2/2025). Ia mengungkapkan, jumlah orang terlantar yang dipulangkan oleh pihaknya cenderung meningkat setiap tahun.
“Salah satu faktornya adalah tingginya migrasi masyarakat, apalagi pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Banyak orang datang dengan harapan mendapatkan pekerjaan, namun tidak semua berhasil, sehingga akhirnya terlantar,” ujar Saidi.
Ia menjelaskan, mayoritas pekerja proyek di IKN berasal dari luar Kalimantan, seperti Jawa Barat, Solo, dan Sulawesi. Karena kehabisan uang dan tidak bisa pulang ke kampung halaman, mereka akhirnya mengadu ke instansi terkait.
Para pekerja awalnya tertarik bekerja di IKN karena dijanjikan gaji tinggi. Namun, mereka direkrut oleh pihak ketiga, bukan langsung oleh perusahaan. Setelah tiba di lokasi kerja, mereka justru menghadapi kondisi yang jauh lebih berat dari yang dijanjikan.
Selain itu, mereka juga harus berhutang di kantin proyek untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, dengan kesepakatan, utang tersebut akan dipotong dari gaji mereka saat menerima upah. Awalnya, sistem ini berjalan lancar, namun dalam beberapa bulan terakhir, gaji mereka tidak kunjung dibayarkan. Saat ditelusuri, mandor pihak ketiga yang merekrut mereka sudah melarikan diri.
Para pekerja kemudian mengadu ke pihak perusahaan, tetapi perusahaan mengklaim bahwa pembayaran sudah diberikan kepada mandor.
“Akibatnya, banyak dari mereka yang kehabisan uang, sampai harus menjual hp untuk bertahan hidup,” tambahnya.
Akhirnya, para pekerja yang tidak memiliki ongkos pulang pun tidak sanggup melanjutkan pekerjaannya karena janji yang tidak ditepati. Mereka ingin pulang, tetapi tidak memiliki biaya, sehingga terpaksa meminta bantuan ke Dinsos. Para pekerja kemudian ditampung sementara di rumah singgah sebelum dipulangkan ke kampung halaman.
Selain kasus pekerja proyek, Saidi juga mengungkapkan adanya dugaan modus dari pihak tertentu yang sengaja menurunkan orang terlantar di wilayah PPU agar mendapatkan bantuan.
“Salah satu kasus yang kami temui adalah seorang ibu yang ditinggalkan di Babulu tanpa bekal, lalu meminta bantuan untuk pulang ke Banjarmasin. Kami menduga ada oknum yang sengaja menurunkan orang-orang ini di daerah kami, lalu mereka mencari bantuan ke Dinsos,” jelasnya.
Ia juga menceritakan pengalaman lain ketika seorang perempuan datang ke rumahnya dan meminta uang Rp1.000 dengan alasan ingin pulang. Namun, setelah ditelusuri, ia mencurigai orang tersebut sebenarnya hanya berpura-pura membutuhkan bantuan.
“Kami siap membantu orang yang benar-benar membutuhkan. Jika ada yang terlantar, kami bisa fasilitasi kepulangannya, bahkan berkoordinasi dengan Dinsos di daerah tujuan. Tapi kalau ada yang hanya berpura-pura, tentu kami tidak bisa mengakomodasi,” tegasnya.
Ia pun menghimbau masyarakat agar tidak menyalahgunakan layanan sosial yang disediakan pemerintah.(*)
