BALIKPAPAN – Musyawarah Daerah (Musda) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kalimantan Timur yang digelar di Hotel Grand Senyiur Balikpapan, Sabtu malam (20/9/2025), berakhir ricuh. Alih-alih menjadi ajang konsolidasi dan demokrasi kepemudaan, forum justru diwarnai adu argumen dan aksi protes.
Andrie Afrizal akhirnya ditetapkan sebagai Ketua KNPI Kaltim. Namun, jalannya pemilihan dinilai janggal. Sejumlah peserta, khususnya rombongan organisasi kepemudaan (OKP) asal Samarinda, mengaku tidak diberi kesempatan masuk forum meski telah menyiapkan diri untuk memberikan suara.
“Saya dari kemarin sudah prepare untuk memilih calon ketua KNPI Kaltim. Tapi kenapa justru saya bersama rombongan asal Samarinda dilarang masuk forum?” ujar seorang pemuda Samarinda yang enggan disebutkan namanya. Ia menduga ada sesuatu yang disembunyikan di balik terpilihnya Andre.

Situasi semakin panas ketika OKP Tidar Kaltim juga tidak diperkenankan hadir di dalam forum. Alasannya, mereka tidak memiliki undangan. Padahal, menurut sejumlah peserta, Tidar memang tidak pernah menerima undangan resmi dari panitia.
“Kalau ini faktanya di lapangan, Tidar memang tidak dikirimi undangan. Ketua Tidar Kaltim, Ahmed Reza Pahlevi, bahkan sempat videocall DPP untuk menanyakan hal ini. Tapi DPP tidak mau menjawab pertanyaannya,” ungkap pemuda lainnya yang enggan disebutkan namanya.
Dari informasi yang beredar, kubu yang mendukung Imam hanya menerima lima undangan untuk OKP, sedangkan kubu Andre disebut mengantongi sekitar 26 undangan. Ketimpangan tersebut memunculkan dugaan kuat adanya keberpihakan panitia dalam mengatur jalannya Musda.
Hingga berita ini diturunkan, panitia Musda KNPI Kaltim belum memberikan klarifikasi resmi terkait polemik tersebut. Sementara itu, pewarta Jurnal Borneo masih berupaya menghubungi Ketua Tidar Kaltim, Ahmed Reza Pahlevi, guna mengonfirmasi alasan organisasi itu dilarang masuk forum.(*)
