Oleh: Bert Toar Polii
MALANG – Kota Malang kembali menjadi perhatian komunitas bridge Indonesia. Pada 10–12 April 2026 mendatang, kota berhawa sejuk di Jawa Timur ini akan menjadi tuan rumah 3rd BTC Bridge Open Tournament, yang diperkirakan diikuti para pemain bridge dari berbagai daerah di Indonesia.
Turnamen yang berlangsung selama tiga hari tersebut akan menggunakan sistem pertandingan kompetitif. Panitia menyiapkan total hadiah sekitar Rp180 juta, menjadikannya salah satu turnamen bridge dengan nilai hadiah cukup besar di Indonesia. Informasi teknis serta perkembangan turnamen dapat diikuti melalui akun Instagram @bridgetochampions.
Bagi komunitas bridge nasional, Malang bukanlah kota yang asing. Kota ini memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan sejarah olahraga bridge di Indonesia.
Kota Pendidikan yang Suburkan Bridge
Meski tidak selalu disebut sebagai pusat utama bridge seperti Jakarta, Bandung, Semarang, atau Surabaya, Malang memiliki peran penting dalam perkembangan permainan kartu strategis ini.
Sebagai kota pendidikan dengan banyak perguruan tinggi dan komunitas mahasiswa aktif, Malang sejak lama menjadi tempat berkembangnya permainan yang kerap dijuluki “catur dengan kartu”.
Dari klub-klub sosial pada masa kolonial hingga komunitas mahasiswa di era modern, permainan bridge terus hidup di kota ini. Tradisi intelektual yang kuat membuat bridge mudah berkembang di lingkungan akademik Malang.
Pernah Jadi Tuan Rumah HUT ke-50 Gabsi
Dalam sejarah modern bridge Indonesia, Malang pernah menjadi pusat perhatian saat Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (PB Gabsi) merayakan hari ulang tahun ke-50 pada tahun 2003.
Rangkaian kegiatan besar digelar di kawasan Batu, Malang, yang saat itu menjadi tuan rumah dua kejuaraan penting.
Pertama adalah Grand Final Liga Bridge Beregu Nasional yang berlangsung pada 30 November hingga 4 Desember 2003 di Hotel Aster Batu. Tim pemenang dari ajang ini mendapatkan kehormatan mewakili Indonesia dalam Kejuaraan Bridge Beregu Internasional di Canberra, Australia, pada Januari 2004.
Selanjutnya adalah ASEAN Bridge Club Championship yang digelar pada 6–10 Desember 2003 di Hotel Agro Wisata Batu. Penulis sendiri saat itu mendapat kepercayaan sebagai Sekretaris Panitia Pelaksana.
Prestasi Gemilang di Canberra
Tim yang akhirnya mewakili Indonesia adalah Regu Bank BNI yang sebelumnya menjuarai kompetisi Djarum Bridge. Tim tersebut diperkuat oleh Jeldy Tontey, Julius Anthonius, George Giovani Watulingas, F. R. Waluyan, Bert Toar Polii, dan Madja Bakara.
Prestasi yang diraih tim ini sangat membanggakan. Dalam kejuaraan di Canberra, mereka berhasil keluar sebagai juara dan bahkan mendapat perhatian khusus dari kalangan bridge Australia.
Mendapat Pujian dari Pakar Australia
Dua pakar bridge Australia memberikan komentar positif mengenai kualitas permainan serta sportivitas tim Indonesia.
Nick Hughes dalam Gold Coast Bulletin edisi 22 Februari 2004 menulis bahwa lebih dari seribu pemain Australia yang tergabung dalam 250 tim harus mengakui keunggulan tim Indonesia.
Sementara itu, Tim Bourke dalam ABF Newsletter edisi Maret 2004 memuji sikap sportivitas para pemain Indonesia yang dinilai bermain dengan adil, cepat, dan penuh respek terhadap lawan.
Pujian tersebut tidak hanya menggambarkan kualitas permainan tim Indonesia, tetapi juga sikap sportif yang menjadi bagian penting dalam olahraga bridge.
Malang Kembali Jadi Titik Pertemuan
Lebih dari dua dekade setelah perayaan HUT ke-50 Gabsi, Malang kembali menjadi titik pertemuan komunitas bridge Indonesia melalui BTC Bridge Open Tournament.
Hal ini mengingatkan bahwa kota ini tidak hanya dikenal sebagai kota pendidikan dan wisata, tetapi juga memiliki peran penting dalam sejarah perkembangan bridge nasional.
Jika tradisi penyelenggaraan turnamen besar terus berlanjut, bukan tidak mungkin Malang akan kembali menorehkan cerita baru dalam perjalanan olahraga bridge Indonesia. Seperti yang pernah dibuktikan di Canberra dua puluh tahun lalu, dari meja-meja bridge di Indonesia selalu terbuka peluang lahirnya prestasi yang membanggakan di panggung internasional.*
